Saya berteman karib dengannya sejak kecil. Maklum saja kami berasal dari
kampung yang sama. Ujung utara di salah satu kabupaten bagian barat
Jawah Tengah. Seperti anak-anak kecil pada umumnya kami sering bercanda
dan berkisah. Tapi ada yang sedikit berbeda cara pandang kita. Mungkin
bagi kebanyakan anak-anak, diskusi-diskusi kami tidak pada tempatnya.
Tapi itulah yang sering menemani puluhan kilometer sepanjang perjalanan
kita.
Saya hafal benar bagaimana keadannya. Tapi yang sangat meneduhkan adalah
dia difasilitasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kepribadian yang
supel dan menyenangkan. Maka tak ayal dia tidak saja sering menjadi
sumber inspirasi bagi anak-anak seusia kami namun juga tempat kami
bertanya banyak hal.
Sekarang kami memang terpisah secara ruang. Tapi di jaman sekarang ini
jarak dan waktu bukanlah masalah yang berarti. Komunikasi kami masih
cukup intens. Tidak saja gagasan tentang ke-Indonesia-an dan
agama yang menjadi tema diskusi kita namun juga tentang keluarga dan
arah peta zaman
Hingga pertanyaan itu datang. Ia pernah menanyakan tentang pilihan
menikahi perawan atau janda. Perawan dengan segalah alasannya dan janda
dengan segalah konsekuensinya. Maka ketika aku dimintai pendapat,
sayapun menjelaskan perihal kedua opsi itu dengan sebisa saya. Semampu
dan sepengetahuan saya. Tapi di akhir cerita itu, kutiupkan satu kalimat
pamungkasnya. Silahkan pilih sesuai dengan kecendrunganmu. Karena
apapun omongan orang, semuanya akan kembali pada kamu sendiri. Kamu
sendiri yang akan menjalaninya.
Lelaki ini memang langka di zaman ini. Keputusannya seringkali
menjadikan kita termenung sejenak untuk mencernah alurnya. Begitu pula
saat mengambil keputusan tentang pernikahan. Tapi narasi cintanya sudah
dia labuhkan. Bahkan keputusannya tidak akan pernah terpikirkan oleh
kebanyakan orang dan sekali lagi dia selalu punya cara untuk meyakinkan
orang-orang di sekitarnya.
Maka janda menjadi pilihannya. Tidak mudah memang menikahi seorang
janda. Maaf karena ini akan banyak keterkaitan antara keluarga besar dan
lingkungan sekitar. Tapi sekali lagi pertimbangan nikah itu bukan kedua
alasan itu. Maka dibutuhkan usaha memahamkan keluarga yang cukup kuat.
Dan sekali lagi mungkin pembaca akan terperanjat dengan keputusannya.
Dia menikahi seorang janda beranak tujuh yang usianya 40 tahun.
Sementara usianya relatif muda, yakni 25 tahun. Beda usia yang cukup
terlihat. Tapi di sinilah kematangan dalam mengolah konfliknya diujii.
Dan manajemen konfliknya sukses. Alhamdulillah sampai sekarang
keluarganya harmonis bahkan ungkapan mesra selalu terlihat di narasi
cinta keluarganya. Semoga perasaan saling mengasihi dan membersamai
selalu ada pada mereka. Aamiin.
Dhiyya Uddin : Penulis Dakwatuna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar