Dahulu di zaman Rasulullah SAW kaum muslimin dikenal bersatu, tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW.
Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.
Kemudian setelah Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali kw menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibn Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah menciptakan Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan.
Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah, bahwa kita sepakat bahwa Ahlul Bait adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi SAW. dan mereka tidak menyimpang dari ajaran nabi. Mereka tidak dari golongan ahli bid’ah, tapi dari golongan Ahlus Sunnah. Ada 2 Pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w, adalah berpegang teguhlah pada Kitab Allah (Al-Qur'an) & sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. Maka tidak akan tersesat (H.R.Muslim). Dan ikutilah Ahlul Bait dan Ahlussunah Wal-jamaah. Karena golongan mereka adalah Para Pewaris Nabi.
Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah salah satu jalan pendekatan diri kepada Allah s.w.t yang perpegang kepada 4 (empat) perkara, 1. Al-Qur’an; 2. Hadits; 3. Ijma dan; 4. Qiyas
Arti Ahlussunnah Wal-jama’ah itu sendiri diambil dari Hadits Rasulullah s.a.w yang beliau sabdakan: “Islam akan menjadi terbagi menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk surga tanpa di hisab”, sahabat berkata : siapakah golongan tersebut ya Rasulullah?, Nabi Muhammad s.a.w bersabda:
"Ahlussunnah Wal-Jama'ah".
"Ahlussunnah Wal-Jama'ah".
Yang kita tanyakan, apa itu Ahlussunnah Wal-jama’ah? Semua golongan mengaku dirinya Ahlussunnah tetapi sebenarnya mereka bukan Ahlussunnah Wal-Jama'ah karena banyak hal-hal yang mereka langgar yang mereka jalankan di dalam ajaran agama Islam, tetapi tetap mereka mengakui diri mereka yang benar.
Sebenarnya kita harus mengetahui apa yang kita pelajari di dalam agama Islam atau yang kita amalkan di dalam Islam maka kita akan mengetahui kebenarannya di dalam ajaran Ahlussunnah wal jama’ah.
Allah s.w.t telah mengucapkan di dalam surat Al Fatihah pada ayat yang 5 dan ayat yang ke 6, Allah s.w.t mengucapkan di dalam ayat yang ke 5 jalan yang lurus dan pada ayat yang ke 6 jalan-jalan mereka, yang kita tanyakan siapa mereka-mereka itu?
Ulama Ahlussunnah wal jama’ah mereka bersepakat: Mereka adalah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya. Penerus sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang dinamakan Tabi’in. Tabi’-tabi’in adalah pengikut yang mengikuti orang yang belajar kepada sahabat Rasulullah SAW. dan para ulama shalihin. Yang ditanyakan, siapa mereka para ulama shalihin itu? Ulama shalihin adalah ulama-ulama yang mengikuti jejak mereka di atas yang 3 dan ulama ini sangat banyak sekali di muka bumi maka mereka menamai dirinya atau golongannya dengan nama “Ahlussunnah Wal-Jama'ah”. Apa yang mereka ajarkan? Kita akan mengenalkan mereka dengan kitab-kitabnya yang telah tersebar luas di dunia seperti Imam Ghozali, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki dan banyak daripada itu pula dari keturunan Rasulullah SAW yang menamai julukan mereka habaib atau habib, diantara mereka adalah Al habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad yang satu diantara karangannya adalah Nashaihuddiyyah dan banyak lagi yang lainnya.
Cara-cara mereka akan lebih dekat kita kenal dengan amalan-amalan mereka yang sering kita dapati di tiap-tiap wilayah diantaranya mereka mendirikan perkumpulan dengan pembacaan sejarah Nabi Muhammad SAW yang dinamakan dengan “Maulid” dan pembacaan Do`a Qunut, Tahlil, Ratib, Ziarah Kubur, Pengadaan Haul para Aulia, Ini diantara amalan-amalan Ahli Sunah Wal Jama`ah.Maka jika dijelaskan sangat panjang, silahkan anda membaca kitab/buku-buku yang dikarang oleh mereka dari karangan-karangan yang berdasarkan AlQur’an dan Hadits-hadits Rasulullah SAW.
Kita akan mengetahui kebenaran ilmu mereka maka kita harus prihatin di zaman ini banyak sekali golongan-golongan yang akan menyesatkan umat manusia karena kebodohan dan kurangnya pengertian jalan yang mereka ikuti sehingga mereka terjerumus kedalam jalan golongan-golongan yang sesat, maka berhati-hatilah membawa diri kita dan keluarga kita agar kita tidak terjerumus kedalam golongan yang tidak ada jaminan dari Rasulullah SAW.
Dalam banyak sabdanya, Rasulullah mengigatkan akan datangnya suatu masa pada manusia, dimana umat islam akan terpecah menjadi kelompok-kelompok (besar atau kecil), masing-masing mengaku sebagai umat islam pewaris Nabi, dan mereka bicara tetang islam, padahal sebenarnya adalah musuh islamjumlah meraka lebih dari tujuh puluh golongan, semuanya akan masuk nerakakecuali satu saja, yaitu mereka yang tetap berpegang teguh dengan sunnah beliau.
Dalam hadist lain disebutkan, bahwa merekalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Disebut sebagai ahlus sunna, karena mereka senantiasa berpegang dengan sunnah beliau disaast manusia menjauh dan mencampakkannya, dan disebut sebagai ahlul jama’ah, dikarenakan mereka menjauhi semua firqah sesat yang hanya menjerumuskan umat islam kepada perpecahan dan persengketaan.
Dalam hadist lain mereka juga disebut sebagai firqah najiyah (golongan yang selamat). Merekalah yang akan diselamatkan Allah dunia dan akhirnya, selamat akidahnya dari segala kesyirikan dan kekufuran, selamat akidahnya dari segala kesyirikan dan penyimpangan dan bid’ah, selamat akhlak dari segala penyimpangan dan bid’ah, selamat akhlak mereka dari nifak dan penyakit hati. Dalam hadist lain mereka disebut sebagai thaifah manshurah (kelompok yang senantiasa mendapatkan pertolongan). Merekalah yang akan tetap tegar membela panji-panji Islam, yang diantara ciri-ciri mereka adalah senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenanggan dalam melawan selalu ada di setiap jaman hingga datangnya hari kiamat nanti.
Namun dari ketiga istilah tersebut, nama Ahlus Sunnah Wal Jam’ah lebih melekat pada kebanyakan manusia, karena istilah ini pula yang digunakan oleh para ulama, istilah ini pula yang palinglonggar untuk dipakai oleh siapapun. Bahkan seorang kelompok ahli bid’ah sekalipun berani mengaku bahwa merekalah Ahlus sunnah Wal jama’ah. Kelompok Asy’ariyah dan maturidiyah yang sebenarnya, beragm harakah yang saat ini berkembang juga menamakan kelompoknya adalah ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hingga kita saksikan bahwaumat begitu sulit mencari siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka lahirlah kemudian sebuah istilah untuk membedakan antara Ahlus Sunnah yang asli dan Ahlus Sunnah palsu. Mereka menybut bahwa Ahlus sunnaah yang murni adalah mereka yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi dari hadist yang shahih, memahami keduanya sebagaimana yangdipahami oleh ketiga generasi khairul qurun (yang kemudian lebih dikenal dengan istilah salafush shalih), memahami islam dan ajarannya sebagaimana yang mereka pahami, meyakini apa yang mereka yakini, berakhlak sebagamana akhlak mereka, beribadah sebagaimana ibadah mereka, tidakmenyisihi urusan mereka, dan selalu mengembalikan setiap urusan kepada kepusan Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, Betapa urgennya memahami ciri-ciri dan karakter mereka, karena dengan demikian kita dapat membedakan antara ahluh sunnah yangmurni dan palsu, lebih dari itu yang menjadi tujuan adalah kita dapat melaksanakan syari’at ini dengan benar, dengan demikian kita termasuk ahlussunnah wal jama’ah, Firqatun Najiah dan Thalifah Manshurah.
Seseorang muslim–Ahlul sunnah Wal Jamaah-beriman kepada Allah, yang tiada ilah kecuali dia, penguasa alam semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang Memiliki hari pembalasan, pencipta langgit dan bumi, Dialah arrahman (yang maha Pengasih) yang bersmayam diatas Arsy-Nya, milik-Nya segala apa yang ada dilangit dan dibumi dan apa-apa yang berada diantara keduanya. Sesungguhnya dia maha pengasih lagi maha mengetahui yang tersembunyi, Allah tiada ilah selain dia yang memiliki nama-nama baik. Dialah selain dia yang memiliki nama-nama baik. Dialah yang hidup yang tidak akan pernah mati. Dia pulalah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah Maha Menguasai atas segala sesuatu.
Sebelum kita berbicara tentang topik dan judul pembahasan ini, sebaiknya kita mengenal beberapa pengertian istilah yang akan dipakai dalam pembahasan ini.(Tahun 2004. Hal. 60)
A. Beberapa Pengertian
1. As-Sunnah
Sunnah menurut bahasa: ialah jalan yang dilalui sama ada terpuji atau tidak juga suatu adat yang telah dibiasakan walaupun tidak baik. Rasul SAW bersabda: "Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (perjalanan-perjalanan) orang yang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga sekiranya mereka memasuki lubang dab (serupa binatang biawak) nescaya kamu memasukinya juga." (Hadith riwayat Muslim) Dalam riwayat yang lain, "Barangsiapa menjalani suatu sunnah (perjalanan) yang baik, maka baginya pahala sunnah itu dan pahala yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat, dan barangsiapa mengadakan suatu sunnah (perjalanan) yang jahat (buruk) maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)
Jelaslah bahwa menurut hadith tersebut, perkataan sunnah itu diartikan dengan perjalanan, sama ada baik atau pun yang jahat, sebagaimana yang dimaksudkan oleh bahasa.
Sunnah menurut istilah Ahli Hadist: Ialah segala yang dipindahkan darinabi sallallahu 'alayhi wa sallam baik yang merupakan perkataan,perbuatan, mahupun yang merupakan taqrir, sebelum nabi dibangkitkan menjadi rasul, mahupun sesudahnya. Kebanyakan ahli hadith menetapkan bahwa pengertian yang demikian sama dengan pengertian hadith.
Sunnah menurut pengertian dan istilah Ahli Usul: ialah segala yang dipindahkan dari nabi sallallahu 'alayhi wa sallam sama ada perkataannya dan perbuatannya, maupun taqrirnya yang bersangkutan dengan hukum. maupun taqrirnya yang bersangkutan dengan hukum.
Inilah pengertian yang dimaksudkan oleh sabdanya ini: "Sesungguhnya aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara tidak akan kamu sesat selama kamu berpegang dengan keduanya: iaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya". (Hadist riwayat Malik)
Adapun makna sunnah secara khusus yaitu makna menurut istilah para ulama dalam suatu bidang ilmu yang mereka tekuni:
1. Para ulama ahli hadits mendefinisikan Sunnah sebagai apa-apa yang disandarkan kepada Nabi baik itu perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan-pen.) maupun sifat lahir dan akhlak.
2. Para ulama ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai apa-apa yang datang dari Nabi selain dari Al-Qur’an, sehingga meliputi perkataan beliau, pekerjaan, taqrir, surat, isyarat, kehendak beliau melakukan sesuatu atau apa-apa yang beliau tinggalkan.
3. Para ulama fiqh memberikan definisi Sunnah sebagai hukum yang datang dari Nabi di bawah hukum wajib. Ia bermakna sesuatu yang dianjurkan dan didorong untuk di kerjakan. Ia adalah sesuatu yang diperintahkan syariat agar dikerjakan, namun dengan perintah yang tidak kuat dan tidak pasti.
Adapun makna umum Sunnah adalah Islam itu sendiri secara sempurna yang meliputi aqidah, hukum, ibadah dan seluruh bagian syariat. Sementara itu ulama' fiqh berpendapat, bahawa suatu yang diterima dari Nabi saw dengan tidak difardukan dan tidak diwajibkan dinamakan sunnah. Iambangannya ialah wajib, haram, makruh dan mubah. Lawannya ialah bid'ah. Talak yang dijatuhkan dalam haid menurut mereka dinamakan: talak bid'ah. Ulama' Syafi'e mengatakan bahawa sunnah itu: ialah suatu yang dipahalai orang yang mengerjakannya, tidak disiksai orang yang meninggalkannya. Menurut ulama' mazhab Hanafi, sunnah itu: ialah suatu yang disunnahkan Nabi saw atau para khalifah serta dikekalkan mengerjakannya, seperti azan dan berjama'ah.
Perbedaan Sunnah dan hadist
Menurut ulama keduanya (hadits dan sunnah) sama. Ada juga yang membedakan sifat khusus dan umumnya. Hadits dimaksudkan apa saja yang dinisbatkan kepada Nabi sementara sunnah apa saja yang dinisbatkan kepada Nabi dan para sahabat. Dengan demikian baik hadits maupun sunnah merupakan wahyu Illahi. Hal ini berbeda dengan orientalis yang banyak dianut oleh pemikir liberal bahwa hadits didefinisikan apa saja yang dinisbatkan Nabi sementara sunnah hanyalah respon sahabat terhadap hadits nabi yang akhirnya menjadi tradisi umat. Mereka berpendapat bahwa yang terkodifikasi hanyalah sunnah, bukan hadits. Sehingga mereka mengingkari eksistensi hadits sebagai wahyu. Bagi mereka hanya Al Qur’an yang diakui sebagai wahyu sedangkan hadits tidak.
Sebagai dampak perbedaan sudut pandang ini maka sangat berbeda pola pikir ulama hadits dengan para pemikir liberal. Misalnya dalam memahami ayat hukum potong bagi pencuri. Menurut ulama hadits apabila pencurian itu sudah sampai persyaratan hukum potong tangan maka tangan anggota badanlah yang dipotong sesuai dengan penjelasan sunnah Rosulullah Saw.
Namun dalam pandangan pemikir liberal, hukum potong tangan dinilai tidak rasional, tidak adil, tidak berprikemanusian dan melanggar HAM. Sehingga mereka memahami bukan tangan yang sesungguhnya yang dipotong, melainkan dimaknai kekuasaan, jabatan atau sejenisnya. (Dr. H. Zainuddin MZ. MA. Lc). ()
2. Al-Jama'ah
Menurut bahasa Arab pengertiannya ialah dari kata Al-Jamu' dengan arti mengumpulkan yang tercerai berai. Adapun dalam pengertian Asyari'ah, Al-Jama'ah ialah orang-orang yang telah sepakat berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits dan mereka itu ialah para shahabat, tabi'in (yakni orang-orang yang belajar dari shahabat dalam pemahaman dan pengambilan Islam) walaupun jumlah mereka sedikit, sebagaimana pernyataan Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu : "Al-Jama'ah itu ialah apa saja yang mencocoki kebenaran, walaupun engkau sendirian (dalam mencocoki kebenaran itu). Maka kamu seorang adalah Al-Jama'ah."
B. Dalil-Dalil Ahlussunnah Wal-Jama'ah
Mengapa ahlu sunnah demikian bersikeras merujuk pada pemahaman para shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits? Ini adalah pertanyaan yang tentunya membutuhkan dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadits untuk menjawabnya. Ahlus Sunnah merujuk kepada para shahabat dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits dikarenakan Allah dan Rasul-Nya banyak sekali memberitahukan kemuliaan mereka, bahkan memujinya. Faktor ini membuat para shahabat menjadi acuan terpercaya dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai landasan utama bagi Syari'ah Islamiyah.
Dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits shahih yang menjadi pegangan Ahlussunnah Wal-Jama'ah dalam merujuk kepada pemahaman sahabat sangat banyak sehingga tidak mungkin semuanya dimuat dalam tulisan yang singkat ini. Sebagian diantaranya perlu ditulis disini sebagai gambaran singkat bagi pembaca tentang betapa kokohnya landasan pemahaman Ahlussunnah Wal-Jama'ah terhadap syari'ah.
1. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah kecintaan Allah dan mereka pun sangat cinta kepada Allah: "Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Hai Muhammad) di bawah pohon (yakni Baitur Ridwan) maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan keterangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(Al-Fath:18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah ridha kepada para shahabat yang turut membaiat Rasulullah salallahu alaihi wa sallam di Hudhaibiyyah sebagai tanda bahwa mereka telah siap taat kepada beliau dalam memerangi kufar (kaum kafir) Quraisy dan tidak lari dari medan perang.
Diriwayatkan bahwa yang ikut ba'iah tersebut seribu empat ratus orang. Dalam ayat lain, Allah Sunahanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agama-Nya (yakni keluar dari Islam) niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alah dan tidak takut cercaan si pencerca. Yang demikian itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al-Maidah:54)
Ath-Thabari membawakan beberapa riwayat tentang tafsir ayat ini antara lain yang beliau nukilkan dari beberapa riwayat dengan jalannya masin-masing, bahwa Al-Hasan Al-Basri, Adh-Dhahadh, Qatadah, Ibnu Juraij, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah Abu Bakar Ash-Shidiq dan segenap shahabat Nabi setelah wafatnya Rasulullah salallahu alaihi wa sallam dalam memerangi orang yang murtad.
2. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah umat yang adil yang dibimbing oleh Rasulullah salallahu alaihi wa sallam. "Dan demikianlah Kami jadikan kalian adalah umat yang adil agar kalian menjadi saksi atas sekalian manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian (Ahlussunnah Wal-Jama'ah)"(Al-Baqarah:143)
Yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di ayat ini ialah para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah kaum mukminin generasi pertama yang terbaik yang ikut menyaksikan turunnya ayat ini dan generasi pertama yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an.
Yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di ayat ini ialah para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah kaum mukminin generasi pertama yang terbaik yang ikut menyaksikan turunnya ayat ini dan generasi pertama yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an.
Ibnu Jarir Ath-Thabari menerangkan: "Dan aku berpandangan bahwasanya Allah Ta'ala menyebut mereka sebagai "orang yang ditengah" karena mereka bersikap tengah-tengah dalam perkara agama, sehingga mereka itu tidaklah sebagai orang-orang yang dhulu (ekstrim, melampaui batas) dalam beragama sebagaimana dhulunya orang-orang Nashara dalam masalah peribadatan dan pernyataan mereka tentang Isa bin Maryam alaihi salam. Dan tidak pula umat ini mengurangi kemuliaan Nabiyullah Isa alaihi salam, sebagaimana tindakan orang-orang Yahudi yang merubah ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya dan membunuh para nabi-nabi mereka dan berdusta atas nama Allah dan mengkufurinya.
Akan tetapi ummat ini adalah orang-orang yang adil dan bersikap adil sehingga Allah mensikapi mereka dengan keadilan, dimana perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling adil (Ahlussunnah Wal-Jama'ah) Penerus para Nabi.
3. Para sahabat adalah teladan utama setelah Nabi dalam beriman
Ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Kalau mereka itu beriman seperti imannya kalian (yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka itu mendapatkan perunjuk dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam perpecahan. Maka cukuplah Allah bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al-Baqarah:137)
Ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Kalau mereka itu beriman seperti imannya kalian (yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka itu mendapatkan perunjuk dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam perpecahan. Maka cukuplah Allah bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al-Baqarah:137)
Ayat ini menegaskan bahwa imannya kaum mukminin itu adalah patokan bagi suatu kaum untuk mendapat petunjuk Allah. Kaum mukminin yang dimaksud yang paling mencocoki kebenaran sebagaimana yang dibawa oleh Nabi salallahu alaihi wa sallam tidak lain ialah para shahabat Nabi yang paling utama dan generasi sesudahnya yang mengikuti mereka. Juga ditegaskan pula hal ini oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surat Al-Fath 29: "Muhammad itu adalah Rasulullah, dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka. Engkau lihat mereka ruku dan sujud mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Terlihat pada wajah-wajah mereka bekas sujud. Demikianlah permisalan mereka di Taurat, dan demikian pula permisalan mereka di Injil. Sebagaimana tanaman yang bersemi kemudian menguat dan kemudian menjadi sangat kuat sehingga tegaklah ia diatas pokoknya, yang mengagumkan orang yang menanamnya, agar Allah membikin orang-orang kafir marah pada mereka. Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalangan mereka itu ampunan dan pahala yang besar."
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam merujuk kepada para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Tentunya dalil-dalil dari Al-Qur'an tersebut berdampingan pula dengan puluhan bahkan ratusan hadists shahih yang menerangkan keutamaan sahabat secara keseluruhan ataupun secara individu. Dari hadits-hadits berikut dapat disimpulkan bahwa :
1. Kebaikan para shahabat tidak mungkin disamai. "Jangan kalian mencerca para shahabatku, seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud, tidaklah ia mencapai ganjarannya satu mud(ukuran gandum sebanyak dua telapak tangan diraparkan satu dengan lainnya) makanan yang dishodaqahkan oleh salah seorang dari mereka dan bahkan tidak pula mencapai setengah mudnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Para sahabat adalah sebaik-baik generasi dan melahirkan sebaik-baik generasi penerus pula: "Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu bahwa Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Sebaik-baik ummatku adalah yang semasa denganku kemudian generasi sesudahnya (yakni tabi'in), kemudian generasi yang sesudahnya lagi (yakni tabi'it tabi'in). Imran mengatakan: 'Aku tidak tahu apakah Rasulullah menyebutkan sesudah masa beliau itu dua generasi atau tiga.' Kemudian Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Kemudian sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu kaum yang memberi persaksian padahal ia tidak diminta persaksiannya, dan ia suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, dan mereka suka bernadzar dan tidak memenuhi nadzarnya, dan mereka berbadan gemuk yakni gambaran orang-orang yang serakah kepadanya'." (HR Bukhari)
3. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wasallam adalah orang-orang pilihan yang diciptakan Allah untuk mendampingi Nabi-Nya: "Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah memilih aku dan juga telah memilih bagiku para shahabatku, maka Ia menjadikan bagiku dari mereka itu para pembantu tugasku, dan para pembelaku, dan para menantu dan mertuaku. Maka barang siapa mencerca mereka, maka atasnyalah kutukan Allah dan para malaikat-Nya an segenap manusia. Allah tidak akan menerima di hari Kiamat para pembela mereka yang bisa memalingkan mereka dari adzab Allah."(HR Al-Laalikai dan Hakim, Shahih)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits shahih yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam di dalam pandangan Nabi. (Tahun 2004 hal 25)
PRINSIP-PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
Ahlus Sunnah tidak pernah menuduh salah seorang musslimin dengan cap kafir hanya hanayaa karena dosa-dosa besar yang mereka lakukan,selama tidak ada dalil yang tidak mengandung ta’wil yang menerangkan akan kekafirannya atau kesyirikannya. Ahlus Sunnah meyakini bahwa seseorang tidak akan kekal di neraka dengan kehendak Allah, jika dia adalah hamba yang bertauhid meskipun ia termasuk pelaku dosa besar.
Mereka juga percaya bahwa rahmat Allah itu luas dan mereka meminta kepada Allah agar memaafkan saudara-saudara mereka yang mukmin, memasukkan mereka ke dalam jannah dengan fadhilah dan rahmatNya, menyelamatkan mereka dari neraka, mengamankan mereka dari marah-Nya, Azab-Nya, dan memohan ampuanan bagi mereka.
Ahlus sunnah tidak pernah memberikan persaksian kepada orang-oranng yang sudah mati syahid atau bahwa si fulan masuk jannah kecuali jika telah ada kabar gembira tentang dirinya (dari rasul) mereka juga tidak memberikan persaksian kepada orang-orang yang melakukan kejelekan bahwa dia termasuk ahli neraka.
Ahlus Sunnah wal jama’ah menyakini bahwa pereperangan antara sesama muslim adalah haram, dan meyakini bahwa membunuh orang islam adalah kufur. Mereka meyakini taat pada imam kaum muslimin dan memegang urusan mereka adalah wajib, meskifun para pemimpin itu bersikap kejam kepada mereka selaama tidak memerintahkan berbuat maksiat kepada rabb semesta alam. Tidak membunuh mereka, kecuali mereka benar-benar kufur bawwah (Kufur yang mengeluarakan seorang millah). Ahlus Sunnah juga meyakini tidak tidak diperbolehkan keluar dari (kekuasaan) mereaka, jika hal itu membahayakan kaum muslimin.
Ahlus sunnah wal jamaah dalam setiap keyakinan dari akidah yang mereka miliki dan akhlak yang menghiasi diri merek, senantiasa mengikuti kitabullah dan sunnah rasullullah SAW. Mereka melakukan shalat berjamah dimasjid dengan berjamaah dan meyakini bahwa melaksanakannya adalah wajib. Mereka juga menunaikan zakat dan shadaqah, menganjurkan agar pendek angan-angan, lemah lembut, qanah, menghindari sifat tamak, menganjurkan untuk memenuhi kebutuhan orang yang kesulitan, mencegah dari satu sifa bakhil, memerintahkan memberikan makan dan minum bagi orang-orang yang kelaparan, dan mengucapka terimakasih kepada kebaikan.
Mereka berpuasa pada bulan ramadhan, menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, menunaikan ibadah Haji dan Umrah sebagai tanda ketundukan dan kehinaan mereka, meneladani para Nabi. Mereka memerintahkan untuk berjihad dijalan Allah, enyebarkan dien, mengeluarkan menusia dari kegelapan menuju cahaya islam dan kebaikan dunia akhirat. Bagi mereka, Syahid bukanlah orang yang berjuang untuk membela kesukuannya (Kaumnya), mengiginkan upah atau ghanimah, ingin dikenang atau menolong tentara selain tentara Allah. Bahkan merekalah yang akan merasakan panasnya api neraka.
Syahid menurut mereka adalah orang-orang yang berperang dijalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi dan merendahkan kaliamat orang-orang kafir. Mereka memerintahkan manusia agar mencari penghidupan dengan car menjual dan lainnya, mencela sikap rakus dan cinta harta, memerintahkan agar berlaku lemah lembut dalam melakukan jual beli, penipuan dan monopoli, Mereka tidak mudah bersumpah meski mereka benar, mengigatkan orang-orang yang berhutang tapi tidakmembayar hutangnya, menjauhi riba, tidak merampas tanah, atau menahan upah pekerja.
Mereka memerintahkan untuk menunduk pandangan, mencegah dari khuwal (berdua-duaan dengan orang asing yang bukan makramnya dan berjabat tangannya. Mereka menganjurkan untuk menikah jika memiliki kemampuan, sudah baligh, memerintahkan seorang suami agar memenuhi kebutuhan istrinya, dan menggaulinya dengan baik. Jadi memerintahkan seorang istri memenuhi hak suaminya, mentaati dalam kebaikan dan melarangnya berselisih dengan suaminya. Memerintahkan agar beruat adil pada istri-istrinnya, memberikan nafkah pada istri dan tanggungannya,dan melarang dari perbuatan menyia-nyiakan (keluarga).
Ahlus sunnah wal jamaah menyukai pakaian yang berwarna putih, menghindarkan isbal dalam shalat dan daalam kondisi lainnya, melarang laki-laki memakai sutra, emas dan melarang wanita-wanita memekai yang tipisyang dapat membentuk tubuhnya. Melarang laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya baik itu pakaian, perkataan, dan gerak (jalan). Mereka tidak mencintai baju kebesaran dan melarang mereka menymbung rambut dengan rambut yang lain, mencukur bulu alis dan bulu mata, merekayang mencintai celak baik laki-laki maupun perempuan
Ahlus sunnah wal jamaah melarang mereka agar tidak menggunakan bejana yang dibuat dari emas atau perak, melarang mereka makan dengan tangan kiri dan minum dengan ceret langsung, mencegah dari makan (yang sangat mengenyangkan), berlebih-lebihan dalam makan, minum karena sombong dan angkuh.
Ahlus Sunnah waljama’ah melarang seseorang menjadi wali bagi suatu kaum, padahal ditenga-tengah mereka ada yang lebih baik darinya. Ahlus sunnah mencegah mereka dari perbuatan zhalim dan waspada dan waspada pada orang doa-doa orang yang terzhalimi. Ahlus sunnah tidak pernah mencela mereka, bahkan mereka berkumpul untuk menolong (orang-orang yang terzhalimi), mereka tidak mencintai perbuatan dzhalim, tidak bersekongkol dan menolong kedzaliman, menggigatkan para hakim dari perbuatan kerhidaan manusia dengan sesuatu yang dibenci Allah
Ahlus sunnah Wal jamaah memerintahkan mereka agar saking menyayangi sesama makhluk Allah yang menjadi tangung an mereka, anak-anak, dan lain sebagainya. Menyangi mereka dan berleah lembut dengan mereka, menasehati para pemimpin dan para pembesar agar mengangkat para mentri yang shalih, dan mengambil sebagai teman baik, mencegah merek dari persaksian palsu, melarang orang yang yang memerintahkan satu perbuatan yang ia sendirimenyelisihnya, memerintah (agar umat kaum muslimin menyembunyikan aib saudaranya) dan mencegah mereka membuka aib saudaranya,
Ahlus sunnah wal jamah melarang pelangaran-pelangaran terhadap yang haram, memerintahkan dan melaksanakan hukum-hukum hudud, dan melarang pencelahan terhadap hukum-hukum tersebut. Ahlus sunnah wal jamah mengharamkan memninum minuman keras, dan menjual, membeli memerasnya, dan membawanya. Mereka yang mengharamkan perzinahan, apalagi dengan istri tetangganya, atau juga mengharamkan perbuatan liwath, menggauli binatang, dan menggauli perempuan melalui duburnya, mengharamkan membunuh jiwa yang diharamkan allah kecuali allah dengan alasan yang benar, dan mengharamkan bunuh diri,
Memerintahkan untuk berbuat baik kepada oarng tua, silaturrahmi dan berbuat baik kepada mereka berdua dan melarang berbuat durhaka kepada mereka, memberikan harta mu kapada orang yang tidak au memberimu dan memanfaatkan orang yang menzhaalimimu,
Memerintahkan agar kita memperhatikan anak yatim, menyangi mereka, memberikan nafkah, dan membeantu wanita-wanita yang ditinggal oleh suaminya, oorang yang miskin melarang mereka menyiksa tetangga, mendorong agar berhubungan baik dngan mereka,menghormati tamu melarang mereka yang bahkhiil, dan mendorong mereka agar kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin dan membahagiaankan mereka,
Menganjurkan mempunyai sifat malu malu, mencegah dari perbuatan membuat (sifat) malu, mencegah dari perbuatan keji dan perkataan kotor, dan mereka yang berlaku baik terhadap makhluk, lemah lembut, perlahan-lahan, santun, murah senyum, baik perkataan.
Sesungguhnya ahlus sunnah wal jamaah setiap aqidah yang mereka yakini dan akhlak yang menghiasi diri mereka, semuanya dan akhlak yang menghiasi diri mereka, semuanya bereasal dari Al-Qur’an dan sunnah nabi merekalah Shallahu Alahi wasalam sebagai penutup para nabi. (Tahun 2002, Hal.74-84)
Maka kalau Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits telah memuliakan para shahabat dan menyuruh kita memuliakannya, sudah semestinya kalau Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjadikan pemahaman, perkataan, dan pengamalan para shahabat terhadap Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai patokan utama dalam menilai kebenaran pemahamannya. Ahlussunnah juga sangat senang dan mantap dalam merujuk kepada para shahabat Nabi dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits. (www.google.com)
REFERENSI
Al-Kulaib, Abdul Malik Ali. 2002. Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah. Solo
Al-Madkhali, Dr. Rabi’ Bin Hadi Umar.2004. Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Jakarta Selatan
Muhammad, Dr. Rabi’. 2004. Ensiklopedi Islam. Jakarta Timur
http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&hl=id&site=&source=hp&q=prinsip+ahlussunnah+wal+jamaah&pbx=1&oq=prinsip+ahlussunnah+wal+jamaah&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=152162l165727l0l166856l32l26l0l0l0l0l0l0ll0l0&fp=1&biw=1366&bih=594&cad=b&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar