SYI’AH
1. Perbedaan Syi’ah dan Sunni
Satu perbedaan utama antara Syi’ah dan Sunni adalah bahwa sunny menerima hadis dari sahabat Nabi manapun, meskipun para sahabat ini saling berperang, bermusuhan, berontak kepada Khalifah yang sah dan membuat-buat hal yang baru dalam agama. Syi’ah, menyakini bahwa perawi dalam rangkainan sebuah hadis harus adil. Jika mereka pernah melakukan ketidak adilan dalam sejarah (seperti yang disebutkan sebelumnya) riwayat mereka tidak diterima bagi kami kecuali jika hadis yang sama telah diriwayatkan oleh rangkaian perawi lain yang semuanya terbukti dapat dipercaya.
Salah satu sahabat dari Mazhab Wahabi mengatakan bahwa Syi’ah ketika meriwayatkan sebuah hadist, hanya menyatakan Iman ini dan itu berkata, satu teman kami berkata lalu bagaimana kita dapat menshahihkan hadis tersebut?
Jika seseorang telah mendengar sesuatu langsung dari12 Iman, dan orang tersebut dapat dipercaya dan riwayatnya tidak bertentangan dengan Qur’an, hadis tersebut bagi kami shahih, karena kami meyakini kesucian para Iman juga para Rasul. Pengetahuan ilmu Iman berasal dari ilmu kakek dan nenek moyang mereka hingga dari Rasul.
Tetapi, rangkaian perawi tetap harus diperhatikan. Jika rangkaiannya terputus, hadis tersebut dianggap lemah sanadnya. Oleh karenanya, semua nama perawi harus disebut namanya, dan itulah keadaan sesungguhnya bagi mayoritas kumpulan hadis Syi’ah.
Bagaimanapun, hanya ada sejumlah hadis dalam Ushul al-Kahfi yang unsure terakhirnya hilang yaitu, nama orang yang meriwayatkan pada Kulaini. Kulaini tidak menyebutkan nama, tetapi menggunakan frase kelompok sahabat kami. Tapi Kulaini menyebutkan bahwa semua elemen-elemen lain dalam rangkaian tersebut.
Alasan yang mendasari hal tersebut adalah syi’ah senantiasa berada dalam ancaman atau penganiayaan pemimpin-pemimpin zalim termasuk penguasa Abbasiyah. Jika Kalini menyebutkan nama orang yang meriwayatkan hadis pejabat, semua perawi akan dibunuh. Untuk melindungi mereka, ia tidak menyebutkan nama mereka dan menggantinya dengan sebutan sekelompok sahabat kami. Namun ia menyebutkan nama orang-orang tersebut kepadanya setelah mereka wafat.
Untungnya karena Kulaini mengetahui aturan penelitian hadis syi’ah, ia mengatakan kepada beberapa muridnya bagaimana nama-nama perawi terakhir itu disusun. Secara lebih spesifik, disebutkan bahwa:
“Ketika disebutkan dalam Ushul al-Kahfi, bahwa sekelompok sahabat meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Isa, kelompok ini terdiri dari lima orang yang bernama Abu Ja’far Muhammad bin Yahya Attar Qummi, Ali bin Musa bin Ja’far Kamandani, Abu Sulaiman Daud bin Kaurah Qummi,Abu Ali Ahmad bin Idris Ahmad Asy’ari Qummi, Abu Hasan Ali bin Ibrahim bin Hasyim Qummi”.
Ketika disebutkan dalam Ushul al-Kafi, ‘sekelompok sahabat yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid Baraqi’ ,mereka adalah Abu Hasan Ali bin Ibrahim bin Hasin Qummy,Muhammad bin Abdillah bin Udainah,Ahmad bin Abdullah bin Umayah, Ali bin Husain Sa’ad Abadi.
Apabila disebutkan dalam Ushul al-Kafi, bahwa sekelompok sahabat meriwayatkan dari Sahl bin Ziyah, mereka adlah 4 orang yang bernama Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Aban Razi, yang dikenal dengan Kulaini,Abu Husain Muhammad bin Abdillah bin Jbin Ja’far bin Muhammad bin Aun Asadi Kufi, penduduk Ray,Muhammad bin Husain bin Frukh Saffar Qummi,Muhammad bin Aqil Kulaini.
Apabila disebutkan dalam Ushul Al-Kafi, sekelompok sahabat meriwayat dari Ja’far Muhammad yang meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang meriwayatkan dari Hasan bin Ali bin Fadhl, mereka adalah Abu Abdillah Husain bin Muhammad bin Imran bin Abi Bakar Asyari Qummi.
Dengan demikian, perawi hadis-hadis tersebut diketahui dan dapat diteliti. Tetapi kami tidak mengklaim bahwa al-Kahfi merupakan buku yang semua hadisnya shahih Syi’ah.(Muhibuddin Thabari.1971:662)
2. Istilah syi’ah dalam Al-Qur’an dan Hadis
Kata Syi’ah berarti para pengikut atau anggota golongan. Karena itu, istilah syi’ah sendiri tidaklah mempunyai pengertian yang negative atau positif kecuali jika kita menyebabkan pemimpin partai itu. Jika seseorang adalah seorang syi’ah (pengikut) para hamba yang saleh. Maka tidak ada sesuatu pun yang salah dengan menjadi syi’ah, khususnya jika pemimpin golongan trsebut telah di tunjuk oleh Allah SWT. Di sisi lain, jika orang menjadi syi’ah seorang penguasa atau pelaku kedzaliman, ia akan bertemu dengan takdir pengikutnya. sesungguhnya, Qur’an mengisyartkan bahwa pada hari keputsan manusia akan datang berkelompok-kelompok da setiap kelompok memiliki pemimpinnya didepannya. Allah, pemilik keagungan dan kekuasaan berfirman, (ingatlah) suat hari (yang dihari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpin (iman)-nya. (Q.S al-Isra:71).
Pada hari pengadilan,nasib `para pengikut` setiap kelompok sangat tergantung pada nasib imamnya (asal saja bahwa mereka benar-benar mengikuti iman itu). Allah SWT manyatakan dalam Qur`an bahwa ada dua jenis iman. Sebagian imam adalah orang-orang yang mengajak manusi kepada api neraka. Mereka adalah para pemimpin tiran dari setiap zaman (seperti pir`aun,dan lain-lain) :“Dan kami jadikan mereka imam-imam yang meyeru manusia kepada api neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan di tolong. Dan kami teruskan untuk melaknat mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang di jauhkan dari rahmat allah.” (Qs.al-Qasah:41-42)
Tentu saja, menjadi anggota golongan-golongan dari imam-imam seperti ini telah di kecam secara keras dalam al Qur`an, dan para penggikut golongan tersebut akan menemui ajal dari parah pemimpin mereka . akan tetapi, Qur’an juga mengingatkan bahwa ada para imam yang ditunjuk oleh Allah Swt. Sebagai pembimbing bagi umat manusia:“Dan kami jadikan diantara mereka imam-imam yang member petunjuk dengan perintah kami karena mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami” (QS. As-Sajdah:24)
Sudah barang tentu, para pengikut sejati (Syi’ah) para imam ini akan mendapatkan keberuntungan hakiki pada hari kebangkitan. Dengan demikian, menjadi seorang Syi’ah tidak sberarti apapun, kecuali, jika kita tahu Syi’ah siapa. Allah Swt. Menyatakan dalam Qur’an bahwa sejumlah hambanya yang saleh adalah Syi’ah hamba saleh lainnya. Contohnya adalah nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Qur’an secara khusus sebagai Syi’ah Nuh, dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syi’ahnya (yakni, Nuh). (QS. Ash-Shaffat:83).
Perhatikan, kata Syi’ah digunakan secara eksplisit, huruf demi huruf, dalam ayat diatas juga dalam ayat berikut. Dalam ayat lain, Qur’an membicarakan Syi’ah Musa lawan musuh-musuh Musa, “Dan ia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduk kota itu tengah lengah, maka ia temukan didalamnya dua orang laki-laki tengah berkelahi, yang seorang dari Syi’ahnya (Bani Israel) dan seseorang dari musuhnya kaum Fir’aun. Maka orang yang dari Syi’ahnya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan yang dari musuhnya” (QS. Al-Qashash:15).
Dalam ayat Qur’an diatas, yang satu dinamai Syi’ah Musa as dan yang keduanya dinamai musuh Musa dan orang-orang di masa itu bisa Syi’ah Musa atau musuh Musa as. Jadi Syi’ah adalah kata resmi yang digunakan oleh Allah dalam Qur’annya untuk para nabi tingkat tinggi-Nya berikut para pengikut mereka.
Andai kata seseorang menyebut dirinya sebagai Syi’ah itu bukanlah karena sektarianisme atau suatu Bid’ah. Hal itu disebabkan Qur’an telah menggunakan frase tersebut bagi sejumlah hamba-hambanya yang terbaik. Ayat diatas yang kami sebutkan dalam mendukung Syi’ah, telah menggunakan bentuk istilah tunggal ini (yakni sekelompok pengikut). Ini artinya ia mempunyai pengetahuan khusus, seperti: Syi’ah Nuh as, Syi’ah Musa as.
Dalam sejarah Islam Syi’ah telah dipakai secara khusus untuk para pengikut Ali. Orang bira pertama yang memakai istilah ini adalah Rasulullah sendiri. Rasulullah saw. Berkata kepada Ali, “kabar gembira wahai Ali! Sesungguhnya engkau dan para sahabatmu dan Syi’ah (pengikutmu) akan berada di surga”. (Sayid Husen Nasir.1975:223-225)
Dengan demikian Rasulullah Saw biasa mengatakan frase`Syi`ah Ali`. Frase ini bukanlah sesuatu yang di buat-buat belakang! Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa para pengikut sejati Imam Ali akan masuk surga dan ini merupakan kebahagian besar. Juga Jabir bin abdillah anshari meriwayatkan bahwa rasululah saw bersabda, “Syi`ah Ali adalah orang –orang yang benar-benar beruntung pada hari kebangkitan.”“hari kebangkitan” bisa juga merujuk pada hari kemunculan imam mahdi as. Namun dalam terma yang lebih umum. Ia artinya adalah hari pengadilan”. Juga di riwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “wahai Ali! Pada hari pengadilan Aku akan berpaling kepada Allah dan engkau akan berpaling kepadaKu dan anak-anakmu akan berpaling kepadamu dan Syi’ah akan , berpaling akan mereka. Maka engkau akan saksikan kemana mereka akan membawa kita (yakni ke surga).”
Selain itu diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw berkata,
“wahai Ali! (pada hari pengadilan) engkau dan syi’ah mu akan datang menghadap Allah dalam keadaan ridho dan bahagia, dan akan datang kepadan—Nya musuh-musuh mu dalam keadaan marah dan jengkel”.
Suatu versi yang lebih lengkap dari hadis yang juga telah diriwayatkan oleh kaum Sunni adalah sebagai berikut. Ibnu Abbas meriwayatkan,
“ketika ayat sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Q.S. Al-Bayyinah:7) diturunkan Rasulullah Saw berkata kepada Ali, Mereka itu adalah engkau dan Syi’ah-mu. Beliau melanjutkan, wahai Ali! (pada hari pengadilan) engkau dan Syi’ah mu akan datang menghadap Allah dalam keadaan Ridho.dan bahagia, sementara mush-musuhmu akan menghadap dalam keadaan marah dengan kepala mereka dengan kepala tedongak. Ali bertanya siapakah musuh-musuhku? Nabi saw menjawab dia yang memisahkan dirinya darimu dan mengutukmu. Dan kabar gembira bagi orang yang sampai pertama kali dibawah naungan Al-Arasy pada hari kebangkitan. Ali bertanya siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Syi’ah mu, wahai Ali dan kaum-kaum yang mencintaimu.
Kemudian Ibnu Hajar menuliskan sebuah ulasan ganjil at hadis pertama, dengan mengatakan “syi’ah Ali adalah Ahlussunnah karena merekalah orang-orang yang mencintai Ahlul Bait sebgimana Allah dan NabiNya perintahkan. Namun yang lainnya (yakni selain Sunni ) adalah musuh-musuh Ahlul Bait yang sebenarnya karena kecintaan diluar batas-batas hukum adalah permusuhan besar dan itulah alas an bagi nasib mereka. Ahlulbait adalah kaum Hawaid dan semacam mereka dari Suriah bukan Muawiyah dan a sahabat lain mereka adalah Muttaawallun dan bagi mereka adalah pahala yang baik. Dan bagi Ali serta syi’ahnya adalah pahala yang baik.
Begitulah cara bagaimana para ulama Sunni mengatasi hadis-hadis kenabian sehubungan dengan ‘Syi’ah Ali’. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah Syi’ah sejati. Mari kita simak satu hadis lagi dalam hal ini. Rasulullah Saw berkata kepada Ali.“ Empat orang pertama yang akan masuk surge adalah aku,engkau,Hasan,dan Husain,dan keturunan kita berada dibelakang kita, dan istri-istri kita berada dibelakang keturunan kita, dan Syi’ah kita berada disebelah kanan kita dn dalam persahabatan dengan kami.
Dari kepingan-kepingan bukti diatas, kata Syi’ah digunakan oleh Allah Swt dalam Quran bagi para nabi-Nya juga para pengikut mereka. Lebih jauh,Nabi-Nya yang mulia,Muhammad saw,telah menggunakan kata ini berulang-ulang bagi para pengikut Imam Ali as. Kata ‘syi’ah’ digunakan di sini dalam arti khususnya,dan selain itu, tidak dalam bentuk jamaknya (golongan-golongan). Sebaliknya ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas merujuk pada suatu golongan khusus, yakni sebuah golongan tunggal. Apabila Syi’ah sectarian, niscaya Allah Swt takkan menggunakan bagi para nabi-Nya peringkat tinggi. Demikian juga Nabi Muhammad niscaya tidak akan memuji dan memuliakan mereka.
Akan tetapi ada sejumlah ayat dalam Quran yang menggunakan bentuk jamak dari Syi’ah yakni syi-ya’a yang berarti golongan-golongan/kelompok-kelompok. Ini merupakan pengertian umum dari tema ini, dan bukan makna khusus dalam bentuk tunggal yang telah diberikan dalam contoh-contoh sebenarnya. Sudah tentu, hanya satu golongan tunggal yang diterima oleh Allah Swt dan sisanya secara keras dikecam karena mereka telah memisahkan diri dari golongan khusus tersebut. Maka jelaskan alas an mengapa Allah Swt mengecam golongan-golongan /partai-partai/sekte-sekte (bentuk majemuk) yang memisahkan diri dari golongan khusus tadi dalam sejumlah ayat Quran. Tidak mungkin ada dua golongan yang saleh (ide-idenya saling berlawanan) disaat yang sama, karena di antara kedua pemimpin golongan itu sesungguhnya lebih baik dan lebih memenuhi syarat, dank arena itu, klaim-klaim dan motif-motif pemimpin lain menjadi pertanyaan.
Akan tetapi kami tidak menemukan istilah tepat dari Ahlussunnah wal Jammah, ataupun Wahabiah, ataupun Salafiah di mana-mana dalam Quran suci atau hadis-hadis Nabi. Kami setuju bahwa kita harus mengikuti Sunnah Nabi, Namun kami ingin menemukan asal-usul terma pasti tersebut disini. Kami, Syi’ah bangga mengikuti Sunnah Nabi. Akan tetapi pertannyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan. Kata Sunnah pada dirinya sendiri tidak berperan sebagai tujuan pengetahuan. Semua Muslimin terlepas dari keyakinan mereka mengklaim bahwa mereka mengikuti Sunnah Nabi Saw. Tema ‘Quran dan Ahlulbait’ di dalam buku ini telah memerinci hal ini.
Sebagiannya ditekankan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah bermaksud membagi-bagi kaum Muslimin ke dalam aneka macam golongan. Nabi Saw memerintahkan semua orang untuk mengikuti Imam Ali as sebagai wakilnya selama masa hidupnya, dan sebagai khalifahnya sepeninggalannya. Nabi Saw menginginkan setiap orang melakukan hal itu. Nahasnya, mereka yang mengindahkannya hanya sedikit dan dikenal sebagai Syi’ah Ali. Mereka menjadi korban segala bentuk penindasan dan diskriminansi sejak wafatnya Muhammad Saw. Apabila setiap orang, atau katakanlah mayoritas Muslimin, menaati apa yang dikehendaki Nabi, niscaya tidak aka ada satu pun kelompok atau mazhab di dalam Islam. Allah Swt berfirman dalam Qur’an, berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah,dan janganlah bercerai berai! (Q.S Ali Imran :103)
Tali Allah yang kita tidak boleh berpisah darinya adalah Ahlulbait. Sesungguhnya, jumlah ulama Sunni meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as berkata, “ Kamilah tali Allah itu kepadanya Allah berfirman, berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah,dan janganlah bercerai berai! (Q.S Ali Imran :103)
Karenanya, apabila Allah Swt mengutuk sektarianisme, dia kutuk orang-orang yang memisahkan atau berlepas diri dari tali-Nya, dan bukan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya. Sebagian orang mengatakan bahwa tali Allah itu adalah Quran. Ini pun memang benar. Namun,dengan melihat hadis berikut yang meriwayatkan oleh Ummu Salamah yang berkata bahwa Rasulullah Saw berkata, Ali bersama Quran, dan Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan pernah berpisah satu sama lain hingga keduanya kembali kepadaku di telaga (surga).
Maka kita dapat simpulkan bahwa Imam Ali adalah ‘al-Quran verbatim’. Yakni, Imam Ali adalah tali Allah yang kuat juga, karena mereka (Quran dan Ali) tidak bisa dipisahkan. Pada kenyataany, terdapat banyak hadis dalam sumber-sumber Sunni yang otentik dimana Nabi Saw bersabda bahwa Quran dan Ahlulbaitnya tidak bisa dipisah-pisahkan. Sekiranya kaum Muslimin ingin tetap di jalan nan lurus, mereka harus bersiteguh pada keduanya. Oleh sebab itu, siapapun bisa menyimpulkan bahwa orang-orang yang berpisah dari Ahlulbait adalah sectarian yang terbagi-bagi dalam beberapa sekte dan dikecam oleh Allah dan Nabi-Nya karena perpisahan mereka (dari Ahlulbait).
Sesungguhnya,a pendapat mayoritas bukanlah suatu criteria yang baik untuk membedakan kebatilan dari kebenaran. Jika anda melihat Quran, anda akan menyaksikan bahwa Quran mengutuk keras mayoritas manusia secara berkali-kali dengan mengatakan ‘kebanyakan tidak memahami’, ‘kebanyakan tidak menggunakan logika mereka’,’kebanyakan mengikuti prasangka mereka’. Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman, kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah yang munkar…(Q.S Ali Imran :110).
Umat terbaik adalah juga Ahlulbait. Marilah kami ingatkan bahwa menurut Quran,’umat ‘ tidak berarti seluruh manusia. Bahkan ini jelas dari ayat di atas bahwa umat semacam itu dilahirkan untuk memberikan manfaat bagi manusia. Karena itu, umat bisa jadi hanya sekelompok (subset) manusia bukan seluruh manusia. Pada kenyataanya, satu orang bisa sebagai umat manusia. Kadang tindakan satu orang manusia lebih mulia/berharga ketimbang perbuatan segala manusia. Inilah yang berlaku bagi Nabi Muhammad Saw, Imam Ali as, juga Nabi Ibrahim as. Quran menyatakan bahwa Ibrahim as adalah suatu umat, artinya perbuatannya lebih berharga ketimbang semua yang lain. Allah Swt berfirman :Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat yang taat kepada Allah dan hanif dan ia sekali-kali bukanlah termasuk orang yang menyekutukan (Allah). (Q.S al-Nahl :120)
Dengan demikian, satu orang saja bisa saja sebuah umat dalam bahasa Quran. Tentang surah Ali Imran ayat 110, menarik untuk diketahui bahwa sejumlah ulama Sunni telah meriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam Muhammad Baqir as) bahwa Abu Ja’far as berkata mengenai ayat kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk (manfaat)manusia… (Q.S Ali Imran:110) .(mereka itu adalah) para anggota Ahlulbait Nabi”.
SEJARAH SYI’AH
Revolusi Iran telah menyilaukan banyak kaum muslimin di dunia. Sebab banyak generasi Islam yang tidak memahami inti dan tujuan dari revolusi ini. Agama Syi’ah adalah satu-satunya agama di dunia yang mewajibkan pengikutnya agar merahasiakan keyakinan mereka, mengikuti para Imam Syi’ah, dan menasehatkan agar inti ajaran ini disembunyikan.
Telah banyak diantara kita yang tertipu, ketika melihat mereka shalat, mengucapkan dua kalimat syahadat, melawan Amerika, dan lain-lain. Tanpa pernah meneliti sumber-sumber ajaran mereka. Disaat kaum muslimin memberikan simpati kepada Syi’ah ini. Di negeri mereka (Iran dan Irak) para ulama mereka menfatwakan kewajiban untuk membunuh kaum muslimin ahlus sunnah.
Disaat kaum muslimin mendemo Amerika untuk mendukung Iran, wanita Muslimah di Irak mereka bunuh di tengah perkampungan, dan mesjid kaum sunni mereka robohkan. Inikah balasan dari simpati yang kita berikan, kaum seperti inikah yang akan kita jadikan saudara? Dan agama seperti inikah yang akan kita bela? Seperti apakah agama ini sebenarnya? Insya Allah kami akan membagi tulisan ini dalam dua kali terbit.
Yang pertama adalah sejarah awal berdirinya agama Syi’ah dan yang kedua adalah prinsip-prinsip dasar yang membedakan antara ahlisunnah dan Syi’ah.
Semenjak hari pertama Rasulullah berdakwah kepada Allah, kaum musyrikin menentang agama Islam memfitnah dan membunuh para pengikutnya. Permusuhan ini telah berlangsung dan akan berlangsung sepanjang sejarah, sampai hari kiamat.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
Mereka akan tetap memerangi kamu, sehingga mereka menarik kembali kamu dari agama kamu, seandainya mereka dapat melakukan.” (Qs. Al-Baqarah 2: 217)
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal, agama Islam telah tersebar luas di semenanjung Arab. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar radiyallahu ‘anhum, berkali-kali terjadi perluasan daerah. Dan umat Islam dapat mengalahkan dua negara adikuasa pada saat itu yaitu kerajaan Persia dan Romawi. Masih pada jaman pemerintahan Umar bin Khatab, satu demi satu benteng-benteng di Persia jatuh. Dimulai dari “Hurmuzan” (salah seorang pembesar Persia) yang pura-pura masuk Islam setelah kekalahan Persia, lalu diikuti oleh orang-orang Iran lainnya. Mereka pura-pura masuk Islam tetapi menyimpan tipu daya dan rencana jahat mereka. Tindakan balas dendam pertama mereka adalah membunuh Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu. Mengapa? Karena Umar radiyallahu ‘anhu lah khalifah yang pertama kali mematikan api agama Majusi, menghapus agama mereka dan menghilangkan kebanggaan mereka. Tentu saja bersama Orang Persia Ikut pula orang-orang Yahudi dan Nasrani karena Umar radiyallahu ‘anhu lah manusia yang telah mengusir oang Yahudi terakhir dari Arabia dan ia pula yang telah membebaskan negeri Syria dari kezaliman orang-orang Romawi yang Nashrani.
Dan pada hari Umar radiyallahu ‘anhu terbunuh, Abdurrahman bin Abu Bakar melihat Abu Lu’lu’ah, Hurmuzan dan Jufainah saling berbisik-bisik. Ketika mereka melihat Abdurrahman, jatuhlah sebilah senjata tajam bermata dua dari balik jubah salah seorang mereka. Dan telah tertulis dalam sejarah kalau yang membunuh Umar adalah Abu Lu’lu'ah.
Rasa permusuhan orang Iran kepada Umar radiyallahu ‘anhu tetap hidup walaupun beliau sudah meninggal, mereka menjadikan cacian dan makian terhadap Umar radiyallahu ‘anhu sebagai ibadah terbesar kepada Allah, bahkan menganggap hari terbunuhnya Umar sebagai hari raya, hari kebanggaan, hari penghormatan, hari zakat. Bahkan mereka memanggil pembunuh Umar radiyallahu ‘anhu dengan panggilan Baba Syuja'uddin (Bapak Pembela Agama).
Dan ketika umat Islam menaklukkan Iran, mereka mengawinkan Husein bin Ali dengan putri raja Iran yang bernama Jazdajrij yang datang bersama tawanan-tawanan. Perkawinan tersebut menjadi sebab mengapa orang Iran bersikap fanatik terhadap Husein, tetapi tidak terhadap Hasan, yakni karena anak Husein dari Syahbanu berdarah Iran dari dinasti Sasanid yang dianggap keramat oleh mereka.
Ketika terjadinya kesalah pahaman antara Ali dan Muawiyah radiyallahu ‘anhum, orang-orang Yahudi dan Majusi memakai kesempatan tersebut untuk memecah belah umat I slam dan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Dengan memakai intrik kotor ala Yahudi seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba'.
Abdullah bin Saba'
Abdullah bin Saba' asalnya seorang Yahudi dari San'a (ibu kota Yaman), ibunya seorang wanita kulit hitam. Ia masuk Islam pada masa kekhalifahan Ustman radiyallahu ‘anhu. Orang ini menaruh dendam terhadap Islam karena berhasil melenyapkan kekuasaan dan mengusir bangsa Yahudi dari Tanah Arab. Ia hidup berpindah-pindah tempat dari Hijaz, kemudian ke Basra, lalu ke Kufah, lalu ke Syam. Di setiap tempat yang ia kunjungi ia selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Namun karena tidak mendapat tanggapan dari kaum muslimin disana. Lalu ia pergi ke Mesir. Disana beliau banyak mendapatkan pengikut dan mengajarkan ajaran “inkarnasi”beliau mengatakan kepada masyarakat; ” Saya sungguh heran dengan orang yang mengatakan bahwa kelak Isa akan kembali lagi, sedang mereka tidak percaya akan kembalinya Ali dikemudian hari.... Ali lah yang lebih patut untuk kembali ke dunia ini dari pada Isa...”
Pengikut-pengikut Abdullah bin Saba' mengatakan bahwa inkarnasinya Ali adalah bagian dari ketuhanan Ali radiyallahu ‘anhu. Mereka percaya bahwa Ali radiyallahu ‘anhu tidak mati karena mengandung ketuhanan. Ali radiyallahu ‘anhu lah yang membawa awan, petir adalah suara Ali radiyallahu ‘anhu, dan kilat adalah alamatnya...
Adullah bin Saba' juga menyiarkan fitnah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal, para shahabat kembali menjadi kafir kecuali tiga orang, kaum muslimin sepakat untuk menyingkirkan Ali radiyallahu ‘anhu dengan mengangkat Abu Bakar, kemudian Umar, Kemudian Ustman sebagai khalifah. Dia menuduh para shahabat telah merebut kekuasaan dari tangan Ali radiyallahu ‘anhu dan anak-anaknya. (Abu Ubaid, Shahih al-Bukhari, 1981:hal.212-213)
SIKAP ALI TERHADAP PENGIKUT SABA'IYAH
Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu ketika mendengar perkataan Abdullah bin Saba' ini tentang dirinya sangat marah, lalu ia memanggil Abdullah bin Saba'. Abdullah bin Saba' mengaku dengan mengatakan; ”Benar, engkau adalah Allah.” Amirul Mukminin berkata, “Kamu sudah dikuasai syetan. Tinggalkanlah ajaranmu dan bertaubatlah wahai orang yang celaka.”
Setelah itu Ali radiyallahu ‘anhu memerintahkan agar Abdullah bin Saba' untuk dibakar, namun kaum Rafidhah (Syi'ah) bersatu dalam menolak keputusan Ali dan mengatakan agar Abdullah bin Saba' dibuang saja. Karena suhu politik pada masa itu masih kacau, Abdullah bin Saba' diasingkan ke Mada'in dan diperintahkan untuk tidak menyiarkan ajarannya. Setelah itu Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu mengambil tindakan keras terhadap orang yang masih menyiarkan ajaran Saba'iyah ini. Sebagian dari mereka ada yang diusir, sebagian lagi ada yang dibunuh dengan pedang atau dengan dibakar hidup-hidup.
Dihadapan pengikutnya Amirul Mukminin Ali radiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ia hanyalah seorang hamba Allah yang taat kepada Tuhannya.
Maka barang siapa yang diketahui mereka adalah pengikut Saba'iyah maka mereka akan dijatuhi dengan hukuman bakar. Dalam khotbahnya Imam Ali berkata, “Mengapa ada orang-orang yang memperkatakan terhadap dua orang pemuka Quraisy dan bapak kaum Muslimin, hal-hal yang saya sendiri jauh dari pandangan serta berlepas diri dari apa yang mereka katakan, dan aku akan menghukum orang yang memperkatakannya. Demi Allah yang menumbuhkan biji dan menciptakan jiwa, tidak mencintai mereka kecuali orang mukmin yang takwa, dan tidak membenci mereka kecuali orang durhaka dan rendah moral ...”
Berhubung dengan sikap Ali radiyallahu ‘anhu yang keras terhadapgolongan Saba'iyah ini, maka para pengikut Saba'iyah terpaksa menyembunyikan keyakinan mereka, dan mulailah mereka menyiarkan ajaran mereka dengan cara sembunyi-sembunyi dengan memakai kedok “At-Taqiyah”
Namun setelah Ali radiyallahu ‘anhu terbunuh oleh Abdurrahman Al Muljam, maka Abdullah bin saba' keluar dari Madain dan mulai menyebarkan ajarannya bahkan mereka menambah kesesatannya dengan mengatakan bahwa Ali tidak mati dan tidak dibunuh. Ia tidak akan mati sehingga ia menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman.”
Syi’ah Sekarang
Revolusi Iran adalah revolusi Syi'ah. Dan kefanatikan kepada Imam mereka tidak dapat dilukiskan, mereka telah menuliskannya dalam buku-buku mereka dan menyiarkannya ke seluruh dunia tanpa tedeng aling. Khomeini mengatakan ke seluruh dunia bahwa imam-imam Syi'ah adalah sederajat dengan Allah yang Maha Pencipta. Dalam bukunya “Al-Hukumah Islamiyah”, ia menulis: Ajaran-ajaran Imam Itu seperti ajaran Al-Qur'an, harus kita ikuti dan kita jalankan... Imam itu mempunyai derajat yang tinggi, kedudukan yang terpuji, kekuasaan alamiyah yang kepadanya semua atom dunia ini tunduk... Imam-imam Syi'ah adalah tuhan-tuhan yang memiliki sifat-sifat Tuhan, yang tidak ngantuk dan tidak tidur”
Lebih dari seribu ulama telah menjatuhkan hukuman murtad dan kafir kepada kepada Khomaini ini pada Muktamar Islam ke Tiga yang diadakan oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah Tanggal 18–22 Safar 1408 H. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga sependapat dengan Ijma' tersebut, karena Khomeini telah menentang nash-nash Al-Qur'an yang jelas. (Farida, Anna.2007.209)
BEBERAPA KONTROVERSI DALAM AJARAN SYI’AH
Secara fisik mungkin kita sangat sulit untuk membedakan antara kaum muslimin dengan pengikut Syi’ah, tetapi bila kita mau menelusuri ajaran Syi’ah dari referensi-referensi utama mereka, maka akan kita dapatkan bahwa Syi’ah ternyata sangat jauh berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah.
Berikut ini adalah beberapa ajaran pokok mereka yang banyak kita dapatkan dalam rujukan-rujukan utama mereka:
A. AQIDAH SYI’AH DALAM MASALAH KETAUHIDAN
1. Mereka mengatakan bahwa Allah _ tidak mengetahui bagian tertentu sebelum terjadi.
Dan mereka mensifati Allah Ta'ala dengan al-Bada' yakni Allah _ baru
mengetahui sesuatu setelah terjadi. Salah seorang ulama mereka, Ar-Rayyan bin As-Shalt berkata: “Saya pernah mendengar Ar-Ridhoberkata: Allah tidak mengutus nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamkan khamr, dan diperintahkan untuk menetapkan sifat bada’ bagi Allah.”
Abu Abdillah berkata seseorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikitpun, sehingga ia mengakui adanya sifat bada’ pada Allah.
Anda bayangkan, bagaimana mereka menisbatkan kebodohan kepada Allah _, yang telah berfirman tentang Dzat-Nya sendiri:
“Katakanlah : “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS.An-Naml : 65).
Sementara di sisi lain, mereka berkeyakinan bahwa para imam mereka mengetahui segala ilmu pengetahuan dan tak ada sedikitpun yang samar baginya.
Al-kulaini, seorang ulama paling terpercaya di kalangan Syi’ah, -bagaikan Imam Bukhari di kalangan Ahlus Sunnah - berkata di dalam bukunya: “Bab bahwa para imam _ mengetahui ilmu yang telah dan akan terjadi, dan tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagi mereka.”
Dan dia berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di m buku dan halaman yang sama, iapun menyebutkan beberapa riwayat dengan
sanadnya dari para sahabat mereka, bahwa mereka telah mendengarkan Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq) bumi, dan akupun mengetahui apa yang ada dalam surga, mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang telah terjadi.”Ni’matullah Al Jazaairi –salah seorang ulama besar Syi’ah- berkata: “Penulis kitab Masyariqul Anwar telah meriwayatkan dengan sanadnya kepada dari Mufadhdhal bin Amr ia berkata: Aku telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang imam, bagaimana beliau bisa mengetahui setiap kejadian di jagad raya ini padahal beliau ada di dalam rumahnya ? beliau menjawab: Wahai Mufadhdhal, sesungguhnya Allah telah menjadikan baginya lima ruh, ruh kehidupan yang digunakan untuk berjalan dan naik, ruh kekuatan dan dengannyalah beliau bangkit, ruh syahwat dan dengannyalah ia makan dan minum, ruh iman dan dengannyalah beliau memerintah dan berbuat adil, dan Ruhul Qudus, dan dengannyalah beliau membawa kenabian. Maka tak kala Rasulullah _ wafat ruhul Qudus ini pindah kepada Imam, maka ia tidak akan lalai, dan dengannyalah ia melihat kejadian di seluruh jagad raya, dan bagi Imam tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baik yang ada di langit ataupun apa yang ada di bumi…maka barangsiapa yang tidak memiliki sifat ini, maka bukanlah seorang Imam.” Apakah ini Aqidah Islamiyyah yang dibawa oleh nabi Muhammad?
2. Syi’ah berkeyakinan bahwa Langit dan bumi serta isinya adalah milik Imam mereka.
Sebagaimana merekapun berkeyakinan bahwa Tuhan mereka berbeda dengan tuhankaum Muslimin. Imam mereka, Al-Khumaeni berkata: “Sesungguhnya para imam itu memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi serta kepemimpinan pembentukan yang tunduk dan taat di bawah
kepemimpinan dan kekuasaannya itu seluruh jagad raya.”
Al-Kulaini telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Abdillah. “Dunia dan akhirat adalah milik Imam, meletakkannya dari siapa yang dikehendakinya dan memberikannya bagi siapa yang dikehendakinya.”
Demikian pula salah satu ulama mereka, Ni’matullah Al Jazairi berkata: “Sesungguhnya kami tidak bersatu dengan mereka –maksudnya dengan Ahlus Sunnah- dalam ketuhanan Allah, tidak pula dalam kenabian, atau masalah keimaman. Karena mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Yang telah mengutus Muhammad dan khalifah setelahnya Abu Bakar. Maka kami tidak mengakui Tuhan yang seperti itu, dan tidak pula mengakui nabi itu. Sesungguhnya Tuhan yang menjadikan pengganti Nabinya Abu Bakar bukan Tuhan kami, dan tidak pula nabi itu nabi
kami
3. Syi’ah berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki Sifat.
Ibnu Babawaih –salah seorang tokoh dan ulama Syi’ah- telah meriwayatkan lebih dari 70 (tujuh puluh) riwayat yang menyatakan bahwa “Allah _ tidak disifati dengan waktu, tempat, tingkah, gerak, pindah, tidak tersifati dengan sifat-sifat yang ada pada jisim, tidak berupa materi, jisim dan bentuk”
Tokoh-tokoh mereka tetap berpijak diatas konsep yang sesat ini, dengan meniadakan sifat-sifat Allah yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Haditst yang shahih.
Sebagaimana juga mereka juga mengingkari turunnya Allah _ ke langit bumi, ditambah lagi
perkataan mereka tentang Al-Quran bahwa ia adalah makhluk, disamping itu mereka juga
mengingkari bahwa Allah _ akan dapat terlihat oleh orang-orang yang beriman di akhirat nanti. Disebutkan dalam buku Biharul Anwar, bahwasannya Abu Abdillah Ja’far Ash Shadiq pernah ditanya dengan suatu pertanyaan, apakah Allah bisa dilihat pada hari kiamat? maka ia menjawab: “Maha Suci Allah, dan Maha Tinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata tidak bisa melihat kecuali kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu, sedangkan Allah Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi”.
Bahkan orang syi’ah mengatakan: jika ada seseorang menisbatkan kepada Allah sebagian sifat, seperti Allah dapat dilihat, maka seorang tadi dihukumi murtad (keluar dari agama), sebagaimana yang disinyalir oleh tokoh mereka Ja’far An-Najafi .
Padahal kita ketahui bahwa melihat Allah di akhirat kelak bagi orang-orang yang beriman
merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan benar adanya, sebagaimana hal itu ditetapkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah berfirman: “Wajah-wajah (orang mu’min) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Dalil dari As-Sunnah bahwa Allah dapat dilihat di hari kiamat, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, beliau berkata : “Kami pernah duduk bersama nabi Muhammad kemudian beliau melihat bulan purnama pada malam 14, maka beliau bersabda: kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala, sebagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak bersusah-susah dalam melihat-Nya.”
B. AQIDAH SYI’AH TENTANG AL-QUR’AN
1. Menurut kepercayaan penganut Syi’ah, Al-Quran yang ada sekarang sudah diubah, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat dan tidak asli lagi.
Seorang ulama Syi’ah, Al-Kusysyi berkata: "Tidak sedikitpun isi kandungan Al-Quran -yang
digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang- yang boleh kita jadikan pegangan".
Keyakinan perubahan Al Qur’an ini dianut oleh Mayoritas ahli hadist syi’ah sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thibrisi dalam bukunya “Fashul khithab fii tahrifi kitab Rabbil-Arbab.” Muhammad bin Ya’kub Al-Kulaini berkata dalam bukunya “Ushulul Kafi” pada bab: Orang yang mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an hanyalah para imam yang diriwayatkan dari Jabir, ia (Jabir) berkata saya mendengar Abu Ja’far berkata ”siapa yang mengaku telah mengumpulkan Al- Qur’an dan membukukan seluruh isinya seperti yang diturunkan Allah _, maka sesungguhnya ia seorang pendusta, tidak ada yang mengumpulkan dan yang menghapalkannya, sebagaimana yangditurunkan oleh Allah , melainkan Ali bin Abi Thalib, dan para imam sesudahnya.”
Al-Kulaini berkata di dalam bukunya Al-Kafi yang dianggap buku paling shahih oleh kalanganSyi’ah: “Dari Hisyam dari Salim dari Abi Abdillah AS: Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa oleh Jibril AS kepada Rasulullah 17000 ayat, dan yang terkenal saat ini bahwa ayat al qur’an tidak lebih dari 6000 ayat kecuali sedikit.”
Abul Hasan Al ‘Amili, ia berkata di dalam pembukaan kedua di dalam Tafsirnya: “Ketahuilah, sesuai dengan riwayat-riwayat mutawatir berikut ini dan riwayat-riwayat lainnya, bahwa Al Qur’anyang ada di tangan kita saat ini, telah terjadi perubahan di dalamnya setelah wafat Rasulullah dan orang-orang yang mengumpulknya setelah beliau telah menghilangkan berbagai kata dan ayat.”
2. Menurut Syi’ah, Al-Quran yang asli berada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada puteraputeranya, dan pada masa sekarang ini Al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahdi al-Muntazar yang mereka namakan dengan Mushaf Fatimah. Syi’ah telah membuat riwayat dari Abu Abdillah, bahwa ia berkata: "Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fathimah, namun mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu." Abu Bashir bertanya: "Apa mushaf Fathimah itu?" Abu Abdillah menjawab: "Sebuah mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian (umat Islam). Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur`an kalian…."
Mungkinkah berbahasa Makassar ? Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf 2)
Lalu bagaimana pula dengan firman Allah :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr 9)
Bukankah apa yang telah dikatakan oleh Syi’ah tersebut di atas merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Al-Qur`an sekaligus sebagai penghinaan kepada Allah, bahwa Dia tidak mampu merealisasikan jaminan-Nya untuk menjaga Al-Qur`an. Ini merupakan salah satu misi Yahudi yang berbajukan Syi'ah sebagai bentuk konspirasi jahat mereka untuk merusak dan mengkaburkan referensi utama umat Islam. Pernyataan kufur mereka ini sama sekali belum pernah dilontarkan sekte-sekte sesat sekalipun seperti Mu'tazilah, Khawarij ataupun Murji`ah.
C. AQIDAH SYI’AH TENTANG AS SUNNAH (HADITS NABI)
Syi’ah menolak hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muhadditsin Ahli Sunnah wal
Jama’ah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan yang lainnya, kalaupun mereka menyebutkannya itu hanya sebatas taqiyyah atau jikalau hal itu dianggap mendukung ajaran
mereka. Syi’ah hanya menersima hadits yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait. Menurut Syi’ah hadits bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum. Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi. Keyakinan bahwa Imam adalah maksum menjadikan semua perkataan yang keluar dari mereka adalah shahih. Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah _ sebagaimana di kalangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah.
Al-Kulaini –Bukhari Syi’ah- telah menulis sebuah bab di dalam kitabnya dengan judul: “Bab Bahwa para Malaikat memasuki rumah para Imam dan menginjak permadani mereka serta memberikan informasi kepada mereka.”
Dan sesungguhnya mereka tidak berbicara kecuali dari Allah dan wahyuNya.” Bahkan tidak hanya itu, Syi’ah beranggapan bahwa para imam lebih baik dari pada para nabi, sehingga tentunya saja menurut mereka perkataan mereka lebih baik dari perkataan para Nabi.
Imam mereka, Al-Khumaeni berkata: “Sesungguhnya Imam itu memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi serta kepemimpinan pembentukan yang tunduk di bawahnya seluruh aktifitas alam. Dan merupakan sesuatu yang harus diyakini di dalam madzhab kita adalah bahwa para Imam kita itu memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai baik oleh para malaikat yang dengan Allah ataupun oleh para nabi yang diutus.”
D. AQIDAH SYI’AH TENTANG KENABIAN
Syi’ah beranggapan bahwa Para Nabi Alaihimus Salam dan termasuk di dalamnya Nabi BesarMuhammad _ telah gagal dalam menyampaikan risalahnya. Hal itu diungkapkan oleh Imam kontemporer mereka Al-Khumaeni, ia berkata pada salah satu khutbahnya dalam rangka memperingati hari kelahiran Mahdi Syi’ah, pada tgl 15 Sya’ban 1400 H:
“Para nabi semuanya telah datang untuk menegakkan kaidah-kaidah keadilan, akan tetapi mereka tidak berhasil, bahkan Nabi Muhammmad sang Penutup para nabi yang datang untuk melakukan reformasi pada umat manusia…iapun tidak berhasil untuk menegakkan hal itu, dan satu-satunya orang yang akan berhasil dalam hal itu adalah Al Mahdi Al Muntadzar.”
Oleh sebab itu tak heran jika mereka mengatakan bahwa para imam mereka lebih afdhal dari para para nabi. Salah seorang tokoh mereka, As Sayyid Amir Muhammad Al Kadzimi Al Quzwaini berkata: “Para imam dari Ahlul Bait AS itu lebih baik dari pada para nabi.”
E. AQIDAH SYI’AH TENTANG PARA SAHABAT RASULULLAH _
Aqidah Syi’ah berpijak di atas pencacian, pencelaan dan pengkafiran terhadap sahabat-sahabatNabi.Hal itu diungkapkan oleh Al-Kulaini dalam bukunya Furu’ul-Kaafi yang diriwayatkan dari Ja’far.“Semua sahabat sepeninggal Rasulullah _ telah murtad (keluar dari Islam) kecuali tiga, kemudian saya bertanya kepadanya: siapakah ketiga sahabat ini? ia menjawab: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”
Disebutkan oleh Al-Majlisi dalam bukunya Haqqul yaqin bahwa Ali bin Al-Husain berkata kepada hamba sahayanya: bagiku atas kamu hak pelayanan, ceritakan kepadaku tentang Abu Bakar dan Umar? maka ia menjawab: mereka berdua adalah kafir, dan orang yang cinta kepadanya termasuk kafir juga.
Dalam tafsir Al-Qummy mereka menafsirkan firman Allah: Mereka menafsirkan: Al Fahsya dengan Abu Bakar, Al Munkar dengan Umar dan Al Baghyi dengan Usman. Al-Majlisi menyebutkan: "Riwayat- riwayat telah menyebutkan tentang kufurnya Abu Bakar dan Umar, serta besarnya pahala melaknat keduanya dan berlepas diri darinya. Kebid’ahan-kebid’ahan mereka berdua tidak akan muat untuk di tulis di dalam satu jilid buku ini atau beberapa jilid yang lain.” Zaenuddin Al Bayaadhi –juga salah seorang ulama Syi’ah- menyebutkan, Bahwa Umar menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman.
Al-Majlisipun menyebutkan: “Penjelasan tentang dua orang Badui Yang pertama dan kedua (Abu Bakar dan Umar) yang belum pernah beriman kepada Allah walau sesaatpun juga.”
Pada tanggal 10 Muharram, mereka membawa anjing yang diberi nama Umar, kemudian mereka beramai-ramai memukulinya dengan tongkat sampai mati, kemudian mereka mendatangkan kambing betina yang diberi nama Aisyah, kemudian mereka mulai mencabuti bulunya dan memukulinya dengan sandal dan sepatu sampai mati.
Sebagaimana juga mereka mengadakan pesta besar-besaran dalam rangka merayakan hari
kematian Umar bin Khattab, dan memberikan penghargaan kepada pembunuhnya Abu Lu’lu’ah seorang yahudi dengan gelar “Pahlawan Agama” Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wata' alameridhoi para sahabat semua dan Ummahatul-Mu’minin para istri-istri Rasul.
Dari sini kita dapat melihat betapa besar kebencian dan kotornya sekte ini, dan betapa buruk dan kotornya ucapan-ucapan mereka yang ditujukan kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi, yang mereka dipuji oleh Allah dan rasul-Nya, dan umat telah sepakat akan keadilan dan keutamaannya, serta sejarah telah mencatat kebaikan-kebaikan dan jihad mereka dalam menegakkan agama Islam.
F. AQIDAH SYI’AH TENTANG NIKAH MUT’AH (KAWIN KONTRAK)
Kaum muslimin telah sepakat dan Ijma’ para ulamapun telah terjadi, bahwa nikah mut’ah
hukumnya haram. Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya saya pernah membolehkan bagi kalian nikah Mut’ah (bersenangsengan dengan wanita) ketahuilah, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mengharamkannya sampai hari kiamat. (H.R.Muslim)
Namun ajaran Syi’ah tidak menjadikan Ijma’ sebagai landasan agama mereka, sehingga mereka justru menjadikan nikah mut’ah sebagai salah satu ibadah yang paling afdhal yang dilakukan oleh pengikutnya, dan bahkan mereka menjadikannya sebagai salah satu pilar utama keimanan. Disebutkan dalam buku “Manhajus Shadiqin” yang ditulis oleh Fathullah Al-Kasyani, dari Ash-Shadiq bahwasannya mut’ah adalah bagian dari agamaku, dan agama nenek moyangku, dan barang siapa yang mengamalkannya berarti ia mengamalkan agama kami, dan barang siapa yang mengingkarinya berarti ia mengingkari agama kami, bahkan ia bisa dianggap beragama dengan selain agama kami, dan anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut’ah lebih utama dari pada anak yang dilahirkan di luar nikah mut’ah, dan orang yang mengingkari nikah mut’ah ia kafir dan
murtad.”
Syi’ah tidak membatasi mut’ah dengan jumlah tertentu, dikatakan dalam kitab “Furu’ul Kaafi”, Ath-Thahdib, dan Al-Istibshar, dari Zurarah dari Abu Abdillah ia berkata “Saya bertanya kepadanya tentang jumlah wanita yang dimut’ah, apakah hanya empat wanita? Ia menjawab nikahilah (dengan mut’ah) dari wanita, meskipun itu 1000 (seribu) wanita, karena mereka (wanita-wanita ini) dikontrak.”
Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far bahwa ia berpendapat tentang mut’ah, bahwa ia tidak hanya terbatas dengan empat wanita, karena mereka tak perlu dicerai, tidak mewarisi, hanyasannya mereka itu adalah dikontrak.”
G. AHLUS SUNNAH DI MATA PENGIKUT SYI’AH
Menurut ajaran Syi’ah, Ahlus Sunnah berarti An-Nawashib atau orang yang mencanangkan permusuhan terhadap Ahlul Bait, mereka adalah najis, anak pelacur dan kafir sehingga mereka halal darah dan hartanya.
Ulama mereka Husen Al-Usfur Al Bahroni berkata: “Dan menurut riwayat-riwayat dari para imam pengertian An Nashib menurut mereka adalah apa yang dikenal dengan orang Sunni / Sunnah.” Dan iapun mengatakan: An Nasibah adalah Pengikut Sunnah. Demikian juga Syeikh mereka Muhammad At-Tijani mengatakan: “setelah pemaparan ini,
sangatlah jelas bagi kita bahwa Nawashib adalh orang-orang yang telah memusuhi Ali dan memerangi Ahlul Bait _ adalah mereka yang menamakan dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.” Yusuf Al-Bahroni: “Penyebutan Muslim bagi seorang Nawashib dan pernyataan bahwa tidak boleh mengambil hartanya karena keislamannya, itu semuanya menyelisihi kelompok yang benar baik yang dulu ataupun sekarang yang telah menghukumi kekafiran orang nawashib, kenajisannya, boleh mengambil hartanya bahkan membunuhnya.”
Di dalam kitab Wasailusy Syi’ah yang ditulis oleh Al-Hur Al-Amili, ia menuturkan : dari Dawud bin Farqod, ia berkata: Saya telah mengatakan kepada Abu Abdillah.Apa pendapat anda tentang Orang Nawashib? Beliau mengatakan: halal darahnya, akan tetapi saya nasehatkan kepadamu untuk berhati-hati. Maka jikalau kamu bisa menimpakan dinding kepadanya, atau kamu tenggelamkan ke dalam air sehingga tidak dilihat oleh orang lain, maka lakukanlah. Kemudian aku katakan: bagaimana pendapatmu tentang hartanya? Rampaslah sebisa kamu.”
Sementara di dalam Kitab Ar Raudhah minal Kafi hal 285: Dari Abu Hamzah, dari Abu Ja’far ,ia berkata: Aku Katakan kepadanya: Sebagian orang-orang kita menuduh orang-orang yang menyelisihi mereka. Kemudian beliau mengatakan kepadaku: Menahan diri dari mereka lebih baik, kemudian ia berkata: Demi Allah wahai Abu Hamzah, semua manusia itu anak Pelacur kecuali kelompok kita.” Artinya semua manusia adalah anak zina kecuali Syi’ah. Al Faedh Ak Akasyani berkata: “Barang siapa yang mengingkari keimaman slaah seorang mereka maksudnya imam maka ia bagaikan orang yang mengingkari kenabian s seluruh para Nabi.”
H. TAQIYYAH SENJATA SYI’AH PALING AMPUH
Saya yakin, bila anda katakan kepada setiap orang Syi’ah tentang apa yang saya sampaikan di atas, pastilah mereka langsung akan mengingkarinya dan menyatakan apa yang saya sampaikan tadi merupakan kedustaan yang besar atas ajaran Syi’ah sekalipun hal itu didukung dengan bukti-bukti kuat dari rujukan dan referensi utama mereka. Anda tidak perlu heran, karena saat itu berarti mereka sedang menggunakan senjata ampuh mereka yang dinamakan dengan Taqiyyah. Taqiyyah (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyah. Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syi’ah. Taqiyyah adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (konon) jika ditampakkan akan membawa malapetaka bagi diri atau agama seseorang. Al-Mufid, salah satu tokoh Syi’ah dalam kitabnya Tashhiihul I'tiqaad menerangkan: "Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinannya, serta menyembunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak menampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkan akan berbahaya terhadap aqidah dan dunianya."
Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah. Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.
Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia. Hakekat Syi'ah memang terkadang sulit diketahui bahkan oleh para pengikutnya sendiri. Itu semua dikarenakan aqidah taqiyah dan kitman (sikap menjaga rahasia) yang ada pada mereka. Bahkan terkadang mereka berpenampilan seolah-olah mencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini menjadikan orang-orang yang polos di kalanganAhlus Sunnah tertipu dan terpedaya oleh mereka. Syi'ah mensyari'atkan dusta yang merupakan aqidah yang harus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman, sebagaimana disebut kan dalam kitab mereka, dari Abu Abdillah,
beliau berkata: “Jagalah agama kalian, tutupilah dengan taqiyyah, tidak dianggap beriman seseorang sebelum ia bertaqiyyah.” Abu Ja'far berkata: "Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Dan tidak beragama bagi siapa yang tidak bertaqiyah".
Diriwayatkan pula dari Ali bin Muhammad: "Wahai Daud! Sekiranya kamu mengatakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan shalat, maka sesungguhnya betullah perkataanmu itu".Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syi’ah adalah perbuatan nifak, pelakunya berarti Munafik. Tidak ada satupun hadits shahih yang menghalalkan taqiyyah sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Syi’ah. Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempatkan di Neraka paling bawah (kerak neraka), oleh sebab itulah Ahlus Sunnah wal-Jamaah mengharamkan Taqiyyah. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta.” (QS. An Nahl 105).
Sekilas tentang agama Syi’ah, apa yang saya sebutkan hanyalah segelintir kecil dari aqidah dan dan kesesatan mereka. Akhirnya, saya memohon kepada Allah _ agar menolong Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan menghinakan orang-orang Syi’ah atau mengembalikan mereka ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya sampai akhir zaman. (Sayid Husen Nasir.1975:425-445)
REFERENSI
Farida, Anna.2007. Antologi Islam. Jakarta: Al-Huda.
Mirza, Abu.2001. Dialog Mazhab. Bandung: Marja.
Ubaid, Abu.1981. Al-Ammal. Beirut: Al-Mustadrak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar