Senin, 21 November 2011

Nasihat Guruku

Anakku, dunia akan terus berkembang sampai batas akhir yang telah ditentukan Allah SWT kemusnahannya. Manusia makin banyak, pemikiran makin beragam, masalah khilafiyah dan bid’ah tak akan habis-habisnya dibicarakan orang, karena mereka memandang masalah itu dengan akal dan dalil yang mereka yakini kebenarannya. Dan disanalah iblis laknatullah dan pasukan syaithannya menyelusup untuk memecah belah persatuan umat dan menggelincirkan mereka ke dalam neraka jahannam.



Dalam hal ini jika engkau bertemu dengan keadaan itu, maka selagi umat masih sepakat dengan kalimat tauhid “LAA ILAHA ILLALLAH WA MUHAMMADUR-ROSULULLAH” yang artinya, tetap mengesakan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya “Tuhan” yang wajib disembah dan dita’ati dan Muhammad SAW adalah “khataman-nabiyyin” serta tidak menambah dan mengurangi hukum yang sudah pasti dan disepakati seperti sholat yang wajib; puasa Ramadhan dan lain-lainnya; hendaklah engkau menghindar dan menjauh dari perdebatan semacam itu.


Hargailah pendapat orang lain, biarkanlah mereka berbuat dengan apa yang mereka yakini.

Hendaklah engkau senantiasa ingat, bahwa salah satu tanda-tanda orang munafik itu adalah selalu hendak berdebat dan menganggap dirinya benar sebagaimana yang telah dipesankan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Hendaklah engkau istiqomah dengan keyakinan yang telah engkau pilih, dan laksanakan semua perintah dan larangan Allah SWT sebisa-bisanya yang engkau lakukan; dan tunaikanlah amar ma’ruf nahi mungkar dengan bijaksana dan kearifan sebagaimana yang Allah perintahkan:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Dari Abdullah bin Mas’ud, katanya:”Bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Tiap-tiap Nabi yang diutus sebelum saya mempunyai pengikut-pengikut dan sahabat-sahabat yang terpilih dari umatnya masing-masing; mereka itu berpegang kepada contoh Nabinya dan menuruti perintahnya; kemudian setelah zaman itu berlalu mereka disambung oleh generasi yang hanya pandai berkata, tetapi tidak bekerja,dan bekerja tetapi tidak menuruti pedoman-pedoman Nabinya. Sesiapa menentang kaum itu dengan kekerasan, mu’minlah ia, menentangnya dengan perkataan, mu’min pula, dan menentangnya dengan hatinya mu’min juga; dan telah habislah iman dari orang-orang yang tidak menentang kemungkaran, walaupun dengan hatinya.”

Ingat pulalah firman Allah SWT:
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147)

Cari dan tambahlah ilmu yang ada dengan sebaik-baiknya, dan jika ada sesuatu yang menurutmu lebih baik dan benar tanpa menyalahi dan menyelisihi Al-Quran dan Sunnah; maka tinggalkanlah pengajaranku. Sebab yang demikian inilah yang juga telah diajarkan guru-guruku semasa aku menuntut ilmu dari mereka. Semoga Allah selalu mengampuni kesalahan beliau; senantiasa mencurahkan rahmat dan ridho-NYA kepada beliau dunia dan akhirat. Amiin ya robbal ‘alamiin..


(dinukil dan diedit dari HALAQAT AS-SALIKIN karangan SYAIKH ABDULLAH FATHURRAHMAN )

Tidak ada komentar: