Rabu, 16 November 2011

HADIS PADA MASA SAHABAT




Periode 2(kedua) sejarah perkembangan hadis, adalah masa sahabat, khususnya pada masa KHULUFA’ AL–RASYIDIN(Abu Bakar,Umar ibn Khattab,Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H sampai dengan 40 H.Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar.
Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaaran Al-Qur’an,maka periwayatan hadis belum begitu berkembang, dan kelihatannya berusaha membatasinya.Oleh karena itu, masa ini oleh para ulama dianggap sebagai masa yang menunjukan adanya pembatasan periwayatan(al-tasabbut wa al–iqlal min al-riwayah).
1.      MENJAGA PESAN RASUL SAW
Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para sahabaat agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadis serta mengajarkannya kepada orang lain, sebagai sabdanya yang artinya:“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam,yang tidak akan sesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab ALLAH (Al-Qur’an) dan sunnahku (Al– Hadis)”.(HR.Malik)Dan sabdanya:“Sampaikan dariku walau satu ayat”. (Syaikh ‘Abd Al-aziz ibn Abdillah ibn ‘Abd Al-Baz, Kitab Ahadits Al-Anbiya,1994: Hal 80)
            Pesan-pesan Rasul SAW sangat mendalam pengaruhnya kepada para sahabaat,sehingga segala perhatian yang tercurah semata–mata untuk melaksanakan dan memelihara pesan– pesannya.Kecintaan mereka kepada Rasul SAW dibuktikan dengan melaksanakan segala yang dicontohkannya.


2.BERHATI – HATI DALAM MERIWAYATKAN DAN MENERIMA HADIS
            Perhatian para sahabat pada masa ini terutama sekali – kali terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan al – Quraan.Ini terlihat bagaiman al – Qur’an pada masa Abu Bakar atas saran Umar ibn Khattab.Usaha pembukuan ini diulang juga pada masa Usman ibn Affan , sehingga melahirkan Mushaf Usmani.Satu disimpan di Madinah yang dinamai mushaf al – imam , dan yang 4(empat) lagi masing – masing di simpan di Mekkah , Bashrah.
Syira dan Kufah.Sikap memusatkan perhatian terhadap Al-Qur’an tidak berarti mereka lalai dan tidak menaruh perhatian terhadap hadis.Mereka memegang hadis seperti halnya yang diterima Rasul SAW secara utuh ketika masih hidup.Akan tetapi dalam meriwayatkan meereka sangat berhati – hati dan membatasi diri.
Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat , disebabkan karena mereka khawatir terjadinya kekeliruan , yang padahal mereka sadari bahkan hadis merupakan sumber tasyri’ setelah al – Quraan , yang harus terjaga dalam kekeliruan sebagaimana al – Quran. Oleh karenanya, para sahabat khususnya khulafa’ al-, Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman , dan Ali) dan sahabat lainnya., seperti Al-Zubair, Ibn Abbas, dan Abu ubaidah berusaha memperketat periwayatan dan penerimaan hadis.
Abu bakar ssebagai khalifah yang pertama menunjukkan perhatiannya dalam memelihara hadis. Menurut al- Dzahabi, Abu Bakar adalah sahabat yang pertama sekali menerima hadis dengan hati-hati. Diriwayatkan oleh ibn Syihab dari Qabishah ibn Zuaib, bahwa seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar soal bagian warisan untuk dirinya. Ketika ia menyatakan bahwa hal itu tidak ditemukan hukumnya baik dalam al-Quran maupun hadis. Al-Mughirah menyebutkan, bahwa Rasul SAW memberinya seperenam. Abu Bakar kemudian meminta supaya Al-Mughirah mengajukan saksi lebih dahulu baru kemudian hadisnya diterima.
Setelah Rasul SAW wafat Abu Bakar pernah mengumpulkan para sahabat. Kepada mereka, ia berkata: “ kalian meriwayatkan hadis-hadis Rasul SAW yang diperselisihkan orang-orang setelah kalian akan lebih banyak berselisih karenanya. Maka janganlah kalian meriwayatkan hadis (tersebut).
Sikap kehati-hatian juga ditunjukkan oleh Umar ibn Khattab. Ia seperti hanya Abu Bakar, suka meminta diajukan saksi jika ada orang yang meriwayatkan hadis. Akan tetapi, untuk masalah tertentu acap kali ia pun menerima periwayatan tanpa syahid dari oarang tertentu, seperti hadis-hadis dari Aisyah. Sikap kedua sahabat juga diikuti oleh Usman bin Ali. Ali, selain dengan cara-cara diatas, juga terkadang mengujinya dengan sumpah.(Ajjaj Al-Khatib, Al-Sunnah Qobla Al-Tadwin, 1994:hal. 92-93).
Perlu juga dijelaskan disini, bahwa pada masa ini belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadis dalam suatu kitab, sseperti halnya Al-Quran. Hal ini disebabkan agar tidak memalingkan perhatian atau kekhususan mereka (umat islam) dalam mempelajari Al-Quran. Sebab lain pula, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadis dari Rasul SAW sesudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam, dengan kesibukannya masing-masing saebagai pembina masyarakat . sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mengumpulkan mereka secara lengkap. Pertimbangan lainnya bahwa soal membukukan hadis, di kalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz, dan kesahihannya.
3. PERIWAYATAN HADIS DENGAN LAFAZ DAN MAKNA
Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadis, yang ditunjukkan oleh para sahabat dengan sikap kehati-hatiannya, tidak bearti hadis-hadis Rasul tidak diriwayatkan. Dalam batas-batas tertentu hadis-hadis itu diriwayatkan, khususnya yang berkaitan denga kebutuhan hidup masyarakat sehari-harinya seperti dalam permasalahan ibadah dan muammalah. Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara secara ketat pembawa hadis tersebut dan kebenaran isi matanya.
Ada dua jalan para sahabat dalam meriwayatkan hadis dari Rasul SAW. Pertama dengan jalan periwayatan lafzhi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul SAW), dan kedua, dengan jalan periwayatan maknawi (maknanya saja).
A.PERIWAYATANLAFZHI
Seperti yang telah dikatakan,bahwa periwayatan lafzhi adalah periwayatan hadis yang redaksinya atau matannya persis yang di wurutkan Rasul SAW ini hanya bisa dilakukan apabila mereka hapal benar apa yang di sabda kan Rasul SAW.
            Kebanyakan sahabat menempuh periwayatan hadis melalui jalan ini.mereka berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi Rasul SAW bukan menurut redaksi mereka.Bahkan menurut ‘Ajjaj Al – Khathib,sebenarnya seluruh sahabat menginginkan agar periwayatan itu dsengan lafzhi bukan dengan maknawi.Sebagian dari mereka secara ketat melarang meriwayatkan hadis dengan maknanya saja,hingga satu huruf atau satu kata yang disebut Rasul dibelakang atau sebaliknya,atau meringankan bacaan yang tadinya tsiqal (berat) dan sebaliknya.Dalam hal ini Umar ibn Khattab pernah berkata:”Barang siapa yang mendengar hadis dari Rasul SAW kemudian di meriwayatkan nya sesuai dengan yang ia dengar , orang itu selamat”.(Al-Rahmaharmuzi, Al-Muhaddits Al-fashil Baina Al-Rawi wa Al-wa’i1984:Hal. 127)
            Diantara para sahabat yang paling keras mengharuskan periwayatan hadis dengan jalan lafzhi adalah Ibnu Ummar.Ia sering kali menegur sahabat yang membacakan hadis yang berbeda (walau satu kata) dengan yang pernah
didengarnya dari Rasul SAW,seperti yang dilakukannya terhadap Ubaid ibn Amir.Suatu ketika seorang sahabat menyebutkan hadis tentang 5(lima) prinsip dasar islam dengan meletakan puasa Ramadhan pada urutan ke-3(tiga).Ibn Ummar serentak menyuruh agar meletakan nya pada urutan yang ke-4(empat),sebagai mana yang didengarnya dari Rasul SAW.
B.PERIWAYATANMAKNAWI
            Diantara para sahabat yang lainnya ada yang berpendapat atau beropini bahwa dalam keadaan darurat atau genting, karena tidak hapal persis sama seperti yang wurutkan Rasul SAW, boleh meriwayatkan hadis secara maknawi.Periwayatan maknawi artinya periwayatan hadis yang matan nya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari Rasul SAW,akan tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul SAW.Tanpa ada perubahan sedikitpun. Meskipun demikian, para sahabat melakukan nya dengan sangat hati–hati. Ibnu Mas’ud misalnya, ketika ia meriwayatkan hadis ada istilah-istilah tertentu yang digunakannya untuk menguatkan penukilannya seperti dengan kata :qala Rasul SAW hakadza (Rasul SAW telah bersabda begini),atau nahwan , atau qala Rasul SAW qariban min hadza.(Ajjaj Al-Khatib, Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin,1984:hal.106).
            Periwayatan hadis dengan maknawi akan mengakibatkan munculnya hadis-hadis yang redaksinya antara 1(satu) hadis dengan hadis lainnya berbeda–beda, meskipun atau makna nya sama. Hal ini sangat tergantung kepada para sahabat atau generasi berikutnyayang meriwayatkanhadis–hadis tersebut. Karakteristik atau watak yang menonjol pada era sahabat ini merupakan,bahwa para sahabat memiliki komitmen yang kuat terhadap Kitab Allah.Mereka memeliharanya dalam lembaran–lembaran,mushaf, dan dalam hati mereka.Kehati–hatianya terhadap Al-Kitab ini juga diberlakukan terhadap sunnah meskipun–di satu sisi–ada larangan dari Nabi SAW untuk menuliskanya. Meskipun demikian mereka berupaya mempertahankan keotentikan kedua–duanya. Setelah Al–Kitab terkumpul dalam 1(satu) suhuf,mereka baru berani menuliskan sunnah nabi.



DEFINISI SAHABAT
            Sahabat ialah orang yang bertemu Rasullulah SAW, lalu beriman kepadanya hingga akhir hidupnya.Banyak ulama yaang mengukirkan sejarah mereka pada karya-karyanya.Menurut as Suyuthy dalam kitabnya alfiya-nya, ulama yang pertm kali mencatat sejarah para sahabat Rasullulah SAW adalah imam Bukhari.Akan tetapi, menurut penulis, Bukhari-lah pertama yang menulis sejarah mereka secara khusus.Hal ini disebabkan telah banyak ulama yang menulis sejarah mereka, tetapi masih mencampurkan dengan sejarah lainnya.Sejarah yang dilakukan Ibnu Saad yang mencatat sejarah mereka dalam kitab Ath Thabaqatul Kubra.Pada kitab tersebut, ditulis sejarah para sahabat dan para ulamayang hidup pada masa hidup beliau SAW.
Ulama yang menulis sejarah mereka antranya adalah Ibnu Hibban, Ibnu Mandah, Abu Musa al Madiny,Abu Nu’aim, Al ‘Askary, dan Ibnu fathun.Sedangkan kitab tentang sejarah mereka yang telah dicetak ialah:
1.Kitab Al Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab,karya Ibnu Abdul Bar
2.Kitab Asadul Gadah fi Ma’rifatish Shahabah, karya Ibnu Atsir Al Jazari
3.Kitab ringkasan Tajrid Asmaish shahabat, karya adz Dzahaby
4.Kitab Al ishabah fi Tamyizish shahabah, karya Al hafizh Ibnu Hajar.Kitab ini merupakan kitab terluas, terdiri dari dari delaapan jilid.Pada jilid keenam dissebut Ibnu Hajar menekuni penulisan sejarah selama empat puluh tahun, sebab dia melakukan penulisannya sedikit demi sedikit, ddan menuliskan dalam catatannya sebanyak tiga kali.
Hadist adalah landasan hukum yang kedua setelah Al-qur'an, pada zaman Nabi Muhammad SAW, hadist ini belum juga dibukukan begitu juga halnya dengan al-Qur'an belum di satukan masih ditulis oleh para sahabat seperti di batu, Kulit unta yang keris, pelepah kurma dan banyak juga para sahabat yang menghapal Al-qur'n. Alasan tidak dibukukannya Al-qur’an adalah para sahabat takut nantinya Al-qur’an dan Hadits tercampur. Maka hadist hanya dihafal oleh para sahabat Rasulullah yang dibukukan hanyalah Al-qur’an, dan pada zaman sekarang ini Hadist telah di bukukan dan hadist itu sudah diberi tigkatan atas ke aslian Hadits tersebut, karena hadist terebut diteliti oleh para Tabi’in seperti:  Bukhori, Muslim, Ibnu Mazah, Nasa’i, Turmudzi, dan lain sebagainya. Maka berikut ini akan dipaparkan beberapa hadist dan cara-cara yang dilakukan oleh para peneliti dalam menerima suatu Hadist apakah hadits tersebut Shahih atau Dhoif atau juga haditsnya ditolak.
SAHABAT YANG BANYAK MERIWAYATKAN HADIS
            Ada 7(tujuh) orang sahabat nabi SAW yang dikenal sebagai perawi hadis Rasullulah SAW yang terbanyak, yaitu lebih dari seribu hadis.Para ulama menyebutkannya sebagai Al Mukatstsiri.Mereka adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Siti Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan Abu Said al Khudri.
            Penulis kitab Thal’atul Anwar, Abdullah bin Ibrahim al’Alwy, menuturkan dalam syairnya yang artinya ialah:“Orang yang paling banyak meriwayatkan hadis adalah Ibnu Abbas,Anas,Siti Aisyah,Jabir,Abu Hurairah,dan Ibnu Umar.Ya Allah lindungilah diriku dan mereka dari bahaya dan musibah.”
            Al Hafizh as Suyuthy telah menuturkan mereka secara berurutan pada dua bait syairnya yang artinya:“Sahabat yang banyak meriwayatkan hadis ialah Abu Hurairrah, Ibnu Umar, Anas, Ibnu Abbas, Ak khudri,Jabir, dan Istri Rasullulah SAW.”
SEJARAH DIBUKUKAN HADIS
            Sejarah hadis memulai periodisasi sejarah perkembangan hadis pada saat awal kenabian itu juga, walaupun informasi yang dimuat adalah informasi-informasi sebelumnya. Sehingga yang dimaksud dengan masa Nabi adalah masa diturunkannya al-Qur’an dari Allah SWT dan masa disampaikannya hadis oleh Nabi SAW.
            Bagaimana suasana keilmuan di awal Islam, mungkin inilah pijakan pertama yang harus dilihat untuk mengetahui perjalanan hadis pada masa Nabi. Sejarah menginformasikan bahwa pada awal Islam tersebut sudah ada kebiasaan tulis menulis. Hal ini ditunjukkan oleh adanya penulisan wahyu dan berbagai bentuk tulis menulis untuk keperluan administrasi negara. Setelah hijrah serta kondisi negara sudah stabil terbukalah orientasi umat Islam untuk mempelajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya, melalui tradisi membaca dan menulis.
            Bahkan perang Badar mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kemampuan baca tulis saat itu, karena para tawanan perang akan mendapatkan kebebasan dari Nabi, bila mau mengajar sepuluh anak Madinah untuk membaca dan menulis.
Kemudian berkembanglah kajian-kajian ilmu dan menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai tempat-tempat pertemuan dan tempat kajian yang muncul di akhir abad pertama, yang menunjukkan akan adanya kebangkitan ilmiah.  Perkembangan ilmiah tersebut bersamaan dengan usaha-usaha Nabi SAW dalam menyebarkan sunnah, diantaranya dengan cara:
  • Mendirikan sekolah di Madinah segera setelah kedatangannya di sana dan setelah itu mengirimkan guru dan khatib ke berbagai wilayah luar Madinah.
  • Memberikan perintah misalnya, “Sampaikanlah pengetahuan dariku walaupun hanya satu ayat”. Tekanan yang sama dapat dilihat dalam pidatonya dalam haji Wada’, “Yang hadir di sini hendaklah menyampaikan amanat ini kepada yang tidak hadir”.
Disamping itu, Rasulullah  juga menyuruh kepada delegasi yang datang ke Madinah untuk mengajari kaumnya setelah kembali ke daerahnya. Selain itu, beliau juga memberikan rangsangan kepada pengajar dan penuntut ilmu misalnya: ganjaran untuk penuntut ilmu dan pengajar serta ancaman pada orang yang menolak terlibat dalam proses pendidikan.
            Dari data historis ini dapat dilihat bahwa pada awal Islam memang kemampuan baca tulis umat Islam masih rendah. Oleh karenanya hal ini juga menjadi fokus perjuangan Nabi SAW  untuk mencerdaskan kehidupan umatnya. Dan berkat upaya-upaya yang dirintis oleh beliau, pada periode-periode berikutnya umat Islam memperoleh kemajuan yang cukup signifikan.
 Hal ini tentu saja sedikit banyak juga mempunyai implikasi terhadap perjalanan transformasi hadis pada masa itu, yaitu bagaimana mereka melestarikan ajaran-ajaran Nabi SAW yang notabenya merupakan tafsir  praktis terhadap al-Qur’an, melalui seluruh aspek kehidupannya.
            Disamping itu,  Rasul Ja’fariyan dalam penelitiannya menemukan bahwa tradisi penulisan hadis di kalangan Syi’ah mendahului fatwa tentang penulisan hadis yang diberikan oleh para Imam belakangan kepada para sahabat mereka. Penulisan hadis merupakan tradisi yang telah dimulai pada masa Nabi dan dikokohkan oleh Ali.   Misalnya, Muhammad Ibn Muslim, seorang sahabat Imam al-Baqir, berkata: “Abu Ja’far membacakan kepada saya “Kitab al-Fara’id} yang didektekan oleh Nabi,  dan ditulis oleh Ali ra. (Syarah Syekh Mahfuzh at Taumusi, Albaits al Hatsits, 1995:hal. 222)
            Namun demikian, hal ini  tidak berarti hadis Nabi  telah terhimpun secara keseluruhan dalam catatan para sahabat tersebut. Karena hadis tidak dilakukan pencatatan (secara resmi) sebagaimana al-Qur’an, sehingga sahabat sebagai individu tidak mungkin mampu menjadi wakil dalam merekam seluruh aspek kehidupan Nabi SAW. Dengan kata lain, oleh karena hadis itu meliputi segala ucapan, tindakan, pembiaran (taqrir), keadaan, kebiasaan dan hal ihwal Nabi Muhammad.  maka yang demikian ini tidak selalu terjadi di hadapan orang banyak.
            Dari keterangan di atas tampak bahwa tradisi penulisan hadis sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi saw. Namun ada kemungkinan bahwa sebagian hadis yang belum tercatat saat itu,  dan baru dicatat masa sesudahnya lewat hafalan-hafalan penghafal hadis. Bahkan ada kemungkinan juga ada aspek-aspek kehidupan Nabi yang tidak bisa direkam sampai saat ini. Dengan demikian fase ini merupakan fase dimana penulisan hadis belum menjadi praktek yang merata.
Hadis pada masa Nabi memang belum diupayakan penghimpunannya dan tidak ditulis secara resmi sebagaimana al-Qur’an pada masa Nabi SAW. Hal ini tentu ada sebab-sebab yang melatarbelakanginya.
Paling tidak ada beberapa faktor mengapa hadis Nabi waktu itu tidak secara resmi ditulis, Pertama,  masa itu tradisi keilmuan (baca tulis) belum menjadi praktek yang merata dan masih dalam tahap diupayakan perkembangannya.
Lalu bagaimana bentuk transformasi hadis pada zaman Nabi ?  Syuhudi Ismail dalam bukunya Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, menyimpulkan bahwa bentuk transformasi hadis antara lain melalui:
1.      Lisan di muka orang banyak yang terdiri dari kaum laki-laki
2.      Pengajian  rutin di kalangan laki-laki
3.      Pengajian khusus yang diadakan di kalangan kaum perempuan, setelah mereka memintanya dan lain sebagainya .





REFERENSI
Al-Muqisy. Fath.1984. Syarh Al-Fiyat Al-Hadits li Al-‘Iraqi. Beirut:Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah
Suparta, Munzier. 2010.Ilmu Hadis. Jakarta:Rajawali Pers.
Muhammad, Sayid.1995.Mutiara Pokok Ilmu Hadis. Bandung:Trigenda Karya.

.


Tidak ada komentar: